EmitenNews.com - Isu downgrade pasar modal Indonesia oleh MSCI merembet ke konflik dagang RI-Singapura. Muncul rumor yang menyebut Sovereign Wealth Fund (SWF) Singapura sebagai shareholder MSCI turut menekan untuk menurunkan peringkat Indonesia ke kasta terendah MSCI Global Classification Market.

Rumor tersebut bermula dari unggahan Mantan Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi pada 20 Oktober 2026. Ia menuding dua investor raksasa Singapura turut menjadi concern independensi dan kepentingan MSCI untuk mempertimbangkan penurunan peringkat Indonesia dari Emerging Market menuju Standalone Market.

"Jadi GIC dan Temasek, dua institusi investasi raksasa Singapura, ini emang punya pengaruh besar ke MSCI," ujar Lutfi.

Lutfi menilai, penurunan peringkat dapat memicu rentetan kepanikan pasar dan menciptakan peluang akumulasi saham Indonesia dengan harga lebih rendah.

GIC dan Temasek Kompak Bantah

Tudingan tersebut langsung ditepis oleh GIC dan Temasek.

Mengutip The Strait Times dan The Business Times, Rabu (21/10/2026), juru bicara GIC berdalih keputusan investasi tidak didorong oleh klasifikasi indeks.

"Keputusan investasi kami tidak didorong oleh klasifikasi indeks atau pandangan pasar dari atas ke bawah, melainkan oleh fundamental tingkat perusahaan dan aset," tulis GIC.

"Kami telah berinvestasi di Indonesia selama lebih dari 30 tahun di berbagai kelas aset dan akan terus berinvestasi di mana kami menemukan peluang yang baik, dari bawah ke atas, dan disesuaikan dengan risiko," lanjutnya.

Senada, Temasek Global Investments mengatai tuduhan tersebut tidak berdasar. Kepala Asia Pasifik Temasek kecuali China dan India, Fock Wai Hoong, mengatakan tidak ada pihak dari Temasek yang menghubungi MSCI.