NINE Beber Perkembangan Akuisisi Tambang di Mongolia
Pengurus Techno9 pada suatu kesempatan. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Techno9 Indonesia (NINE) mengungkap perkembangan terbaru akuisisi tambang Poh Group di Mongolia melalui Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR). Aset tersebut merupakan bagian dari portofolio aset pertambangan Poh Group yang akan diinjeksi ke Techno9 Indonesia.
Perkembangan itu, juga berpotensi memberi dampak material terhadap rencana investasi pertambangan Poh Group di Indonesia di masa mendatang. Baik melalui skema kerja sama operasi alias Joint Operation (JO) maupun kepemilikan langsung. PGGR merupakan afiliasi Poh Group melalui pemegang saham pengendali sama, yaitu Poh Kay Ping.
PGGR merupakan pemilik 100 persen dua konsesi pertambangan di Mongolia. Aset-aset pertambangan tersebut direncanakan untuk diinjeksi ke Techno9 Indonesia. Perseroan telah meneken, dan memperoleh suatu opsi untuk membeli aset-aset pertambangan PGGR berlokasi di Mongolia.
Nilai indikatif atas aset-aset tersebut USD150 juta. Namun, nilai transaksi akan ditentukan berdasar nilai rata-rata dari dua penilai independen yang disetujui, masing-masing satu penilai dari Indonesia, dan satu penilai dari Australia. Nilai rata-rata hasil penilaian itu, akan menjadi dasar transaksi, dan berlaku mengesampingkan nilai indikatif yang telah disebutkan.
Opsi pembelian itu, berlaku untuk jangka waktu 9 bulan sejak tanggal ditandatanganinya perjanjian opsi. Pelaksanaan opsi, dan implementasi transaksi itu, tunduk pada terpenuhinya persyaratan sebagai berikut. Persetujuan pemegang saham perseroan, persetujuan regulator berwenang, termasuk Otoritas Jasa Keuangan
(OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Lalu, kepatuhan terhadap seluruh peraturan perundang-undangan, peraturan, ketentuan pencatatan, dan persyaratan regulator lainnya yang relevan dengan transaksi. Dan, terakhir penandatanganan dokumen transaksi bersifat definitif. Opsi itu lanjutan dari rencana Poh Kay Ping untuk menghidupkan kembali, dan diversifikasi kegiatan usaha perseroan demi kepentingan para pemegang saham.
Di sisi lain, PGGR telah meneken suatu framework agreement for mining cooperation dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia. Entitas EPC+F itu, merupakan perusahaan berskala besar dimiliki secara privat di Inner Mongolia, Tiongkok, berdiri sejak 1998, dengan jumlah karyawan lebih dari 1.000 orang, dan total aset melebihi USD500 juta.
Perusahaan itu, secara legal memiliki dan mengoperasikan tambang terbuka (open-pit mines), dan tambang bawah tanah (underground mines) dengan pengalaman matang dalam eksploitasi pertambangan, dan manajemen operasi. Di samping itu, juga telah menuntaskan investigasi khusus atas tambang-tambang di Mongolia, Indonesia, dan negara lainnya, sehingga memiliki dasar kuat untuk kerja sama pertambangan lintas negara.
Entitas EPC+F itu, menyatakan bersedia untuk bekerja sama dengan PGGR (termasuk pihak-pihak terafiliasi seperti Poh Group (PG)/Techno9 Indonesia) dalam eksploitasi tambang yang dimiliki secara langsung maupun tidak langsung, atau untuk melaksanakan kerja sama operasi dengan pihak ketiga di Indonesia. Kerja sama itu, dilaksanakan dengan ketentuan setiap proyek tambang dinilai layak secara ekonomi, telah memperoleh persetujuan manajemen, dan pemegang saham dari seluruh pihak terkait.
Entitas EPC+F itu, memiliki niat, dan kapasitas untuk melakukan investasi lebih dari USD100 juta untuk mengimplementasikan operasi pertambangan bagi proyek-proyek PG/Techno9 Indonesia, dan PGGR, dengan kapasitas produksi tahunan yang diproyeksi melebihi 20 juta ton. Realisasi rencana investasi itu, bergantung pada hasil uji tuntas, persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri dari otoritas Tiongkok di tempat entitas berdomisili untuk setiap proyek kerja sama yang spesifik.
Jumlah investasi aktual akan disesuaikan dengan besaran persetujuan atau pencatatan yang diperoleh. PGGR, bersama pihak-pihak terafiliasinya PG/Techno9 Indonesia, terus mendorong kerja sama pertambangan lintas negara. Saat ini, PG/Techno9 Indonesia tengah melakukan negosiasi lanjutan secara intensif soal kerja sama operasi dengan beberapa perusahaan pertambangan Indonesia.
Tentu saja, perusahaan yang telah memilik izin usaha pertambangan sah. Mencakup sumber daya seperti emas, batubara, timah, dan bauksit, dengan tujuan memperluas batas sumber daya dalam kerja sama antara para pihak. Perkembangan itu, berpotensi memiliki dampak material bagi para pemegang saham Techno9 Indonesia, khususnya apabila opsi pembelian aset pertambangan PGGR di Mongolia dilaksanakan.
Selain itu, juga terhadap keterlibatan Techno9 Indonesia di masa depan dalam proyek-proyek pertambangan di Indonesia, karena membuka jalur monetisasi aset lebih terstruktur. ”Perseroan akan terus melakukan penjajakan, dan pengembangan berbagai peluang usaha di Indonesia maupun kawasan regional untuk memberi nilai tambah berkelanjutan bagi para pemegang saham,” tegas Nuzwan Gufron, Direktur Utama Techno9. (*)
Related News
Investor DEWA Lepas 400 Juta Saham Senilai Rp232,4 Miliar Harga Bawah
BTN Kelar Transaksi Rp5,56 Triliun, Ini Performa BBTN dalam Setahun
Gelontorkan Rp22,36 Miliar, HP Capital Kuasai 8,36 Persen Saham INTA
Danantara AM Alihkan 54 Juta Saham ADHI Kepada BP BUMN
Didukung Penerapan AI, IOTF Incar Pertumbuhan Double Digit Pada 2026
Harga RMKO Terbang Ratusan Persen, Pengendali Raup Rp15 Miliar





