OJK Minta LJK Hati-hati Kelola Risiko Perlambatan Ekonomi
:
0
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta lembaga jasa keuangan (LJK) meningkatkan kehati-hatian dalam mengelola risiko. Ini sebagai upaya untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi.
EmitenNews.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta lembaga jasa keuangan (LJK) meningkatkan kehati-hatian dalam mengelola risiko. Ini sebagai upaya untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono mengingatkan, perlambatan ekonomi dapat berdampak terhadap kinerja LJK non-bank. Seperti dana pensiun dan asuransi.
“Untuk dana pensiun, pertumbuhan ekonomi yang melambat bisa menurunkan imbal hasil investasi. Dan mengurangi kemampuan dana pensiun untuk memenuhi kewajiban di masa depan,” ujarnya, di Jakarta, Minggu (27/4/2025).
Sedangkan terkait industri asuransi, ia menyatakan bahwa perlambatan ekonomi dapat mempengaruhi hasil investasi produk unit link. Serta, meningkatkan risiko klaim atau penarikan tunai.
Ia menuturkan bahwa daya beli masyarakat yang menurun juga dapat mengurangi permintaan produk asuransi, terutama yang berbasis investasi. “Dampak ini menuntut LJK nonbank untuk lebih berhati-hati dalam mengelola risiko dan berinovasi dalam produk mereka,” kata Ogi.
Kini, sejumlah lembaga keuangan internasional merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia. ini mengingat kondisi perekonomian global yang semakin bergejolak karena kebijakan tarif impor Amerika Serikat dan perang dagang AS-Tiongkok.
Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dari 5,1 persen menjadi 4,7 persen. Sementara prediksi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) turun dari 5,2 persen menjadi 4,9 persen.
OJK mencatat bahwa aset industri asuransi meningkat 1,03 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Yaitu, dari Rp1.130,05 triliun pada Februari 2024 menjadi Rp1.141,71 triliun pada Februari 2025.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan aset asuransi komersil 1,15 persen yoy menjadi Rp920,25 triliun. Serta peningkatan aset asuransi nonkomersil sebesar 0,54 persen yoy menjadi Rp221,45 triliun.
Industri dana pensiun juga mengalami peningkatan total aset sebesar 5,94 persen yoy menjadi Rp1.511,71 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari aset program pensiun sukarela senilai Rp381,13 triliun, naik 2,36 persen yoy, dan aset program pensiun wajib sejumlah Rp1.130,58 triliun, tumbuh 7,20 persen yoy.(*)
Related News
Kinerja Menggembirakan, Laba Maybank (BNII) Meningkat 21,2 Persen
Indef Nilai Margin Bunga Bersih Bank Turun Perkuat Akses KPR Subsidi
Pemerintah Miliki Utang ke Pupuk Indonesia, Naik Jadi Rp21 Triliun
Harga Pertamax Resmi Turun, Tapi Minimalis, Cek Daftarnya Terbarunya
Calon Gubernur BI Masih Digodok, Begini Syarat Wajib dari Prabowo
Soal Putusan The Fed, Indodax Nilai Respon Pasar Kripto Relatif Stabil





