OJK Sebut Saham SRIL Masuk Kriteria Delisting
:
0
Ilustrasi PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL). Dok. Sritex.
EmitenNews.com - Saham PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) atau Sritex telah masuk kriteria delisting. Saham SRIL sudah dihentikan perdagangannya atau suspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 18 Mei 2021. Jadi, praktis hingga saat ini, tidak ada aktivitas transaksi perdagangan saham
Dalam keterangannya yang dikutip Senin (9/6/2025), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menjelaskan posisi saham SRIL tersebut.
"Tak ada transaksi di situ karena ada penundaan pembayaran pokok MTN tahun 3 tahun 2018. Sesuai ketentuan dan kriteria yang diatur peraturan bursa 1 N, ini sudah masuk kriteria bisa didelisting karena telah dilakukan suspensi lebih dari 24 bulan," ujar Inarno Djajadi.
Meskipun OJK juga telah menetapkan pengecualian untuk keterlambatan laporan keuangan tahun dan laporan keuangan tengah tahun kepada SRIL, penyampaian kinerja keuangan tetap harus tetap dilakukan.
"Tentu SRIL tetap wajib menyampaikan keterbukaan info dan laporan-laporan lainnya," sebutnya.
Data laba bersih berjalan Sritex, dapat terlihat bahwa 2021 menjadi periode kerugian terbesarnya, sejak perusahaan garmen terbesar tersebut melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun, kerugian tersebut berhasil terkikis hingga September 2024 menjadi Rp637 miliar.
Dari sisi pendapatan Sritex, terjadi penurunan pada pendapatan 2021 dari pendapatan 2020 sebesar 35%. Penurunan tersebut jadi awal Sritex mencetak kerugian terbesarnya, dan sejak saat itu pendapatannya terus merosot hingga akhir September 2024.
Pandemi Covid-19, menyumbangkan penyebab merosotnya pendapatan hingga laba Sritex, yang dimulai pada 2020. Kondisi itu mengganggu rantai pasok global dan menurunkan permintaan konsumen.
Akibatnya, perusahaan terpaksa mengajukan restrukturisasi utang melalui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada Mei 2021, dengan total utang mencapai sekitar Rp12,9 triliun.
Related News
MMIX Genjot Ekspansi, Gandeng Sariayu hingga Bangun Pabrik Baby Diaper
Hibah Lahan Meikarta ke Negara Bukan Rp6 Triliun, Segini Angkanya
WTON Catat Lonjakan Skor ESG 71, Tarik Atensi S&P Global
Pendapatan 2025 Melonjak 317 Persen, KOTA Bidik Kinerja Kian Progresif
INDF Bagi Dividen Rp290 per Saham, Fokus Jaga Pangsa Pasar dan Profit
PPRE Lepas 100 Persen Saham Lancarjaya Rp1,6T dan Tunjuk Dirkeu Baru





