Outlook Indosat (ISAT) Direvisi Jadi Positif, Fitch Ratings Sematkan Peringkat di AA+
:
0
EmitenNews.com -Fitch Ratings telah merevisi Outlook Peringkat Issuer Default Rating (IDR) Jangka Panjang Mata Uang Asing dan Lokal PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi Positif dari Stabil, dan mengafirmasi peringkat IDR dan senior tanpa jaminan di 'BBB-'. Fitch Ratings Indonesia pada saat yang sama telah mengafirmasi Peringkat Nasional Jangka Panjang dan peringkat seluruh obligasi dan sukuk senior tanpa jaminan berdenominasi rupiah yang beredar di 'AA+(idn)'. Outlook Peringkat Nasional Jangka Panjang adalah Stabil.
Outlook Positif pada IDR mencerminkan pandangan Fitch bahwa EBITDA net leverage Indosat kemungkinan akan tetap di bawah 1,3x, ambang batas yang kami anggap sebagai tindakan pemeringkatan positif. Ruang peringkat telah meningkat dan kami memperkirakan peringkat perusahaan akan mampu menahan dampak biaya spektrum 5G dan belanja modal terkait 5G yang lebih tinggi.
Peringkat Nasional 'AA+' menunjukkan ekspektasi terhadap risiko gagal bayar yang sangat rendah dibandingkan dengan emiten atau obligasi lain di negara yang sama. Risiko gagal bayar pada dasarnya hanya sedikit berbeda dengan risiko gagal bayar pada emiten atau obligasi dengan peringkat tertinggi di suatu negara.
Ruang Peringkat Tinggi: Fitch Ratings memperkirakan EBITDA net leverage akan tetap berada di kisaran 1,1x pada tahun 2024-2025 (perkiraan tahun 2023: 0,6x), karena biaya untuk mengakuisisi spektrum 5G akan disesuaikan dengan perkiraan kami akan pertumbuhan EBITDA yang kuat menjadi Rp15 triliun pada tahun 2025 dari diperkirakan sebesar Rp14 triliun pada tahun 2023 (2022: Rp12 triliun). EBITDA net leverage Indosat meningkat menjadi 0,6x pada akhir-3Q23 karena utang bersih yang lebih rendah dan margin EBITDA yang lebih besar sebesar 29% pada 9M23 (2022: 25%), sehingga memberi perusahaan ruang yang cukup untuk melakukan pemeringkatan.
Peningkatan Margin EBITDA: Fitch Ratings memperkirakan margin EBITDA yang disesuaikan dengan Fitch akan tetap sebesar 27%-28% selama tahun 2024-2026, dengan asumsi pemerintah tidak memberikan insentif apa pun pada biaya spektrum. Peningkatan margin akan didorong oleh pertumbuhan pendapatan satu digit menengah hingga tinggi, kontribusi dari layanan fixed-broadband dengan margin lebih tinggi, dan penghematan biaya pemeliharaan, biaya pemasaran, dan personel. Margin EBITDA mungkin turun menjadi sekitar 27% pada tahun 2024-2025 karena perusahaan mungkin harus membayar biaya frekuensi radio tambahan pada spektrum 5G, yang kami perkirakan akan dibeli pada tahun 2024.
Peningkatan ARPU Seluler: Fitch Ratings memperkirakan Indosat akan meningkatkan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) menjadi Rp40.000 pada tahun 2025 dari Rp35.000 pada 3Q23, yang berarti 27% dan 16% lebih rendah dibandingkan ARPU PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan PT XL Axiata Tbk (BBB/AAA(idn)/Negatif), masing-masing. Persaingan di sektor seluler tetap rasional karena tiga perusahaan telekomunikasi teratas fokus pada peningkatan profitabilitas sebagai antisipasi lelang spektrum 5G mendatang.
Peningkatan kualitas jaringan Indosat akan mendukung kenaikan harga lebih lanjut karena pihaknya menambah lebih dari 35.000 base transceiver station (BTS) 4G selama 9M23. Total BTS di seluruh jaringannya mencapai lebih dari 221.000, kedua setelah Telkomsel 233.000 dan lebih tinggi dari XL 158.000.
Ekspansi Tetap - Broadband: Kami memperkirakan pendapatan setidaknya sebesar Rp1,1 triliun dan kontribusi EBITDA sebesar Rp450 miliar dari pelanggan fiber-to-the-home (FTTH) dan internet-protocol-television (IPTV) yang diakuisisi dari PT MNC Kabel Mediacom. Layanan cross-selling FTTH kepada 99 juta pelanggan seluler Indosat akan mendorong pertumbuhan pelanggan FTTH.
Penetrasi pada jaringan fiber milik mitranya yang berjumlah 1,5 juta home pass hanya sebesar 22%, lebih rendah dari estimasi kami yang mencapai 28% pada jaringan pesaingnya, IndiHome, dan sebanding dengan penetrasi 22% pada jaringan PT Link Net Tbk, yang memiliki lebih dari 3 juta home pass. Kami memperkirakan persaingan akan semakin ketat di sektor fixed-broadband dan mengasumsikan ARPU pelanggan FTTH yang diakuisisi akan sedikit menurun menjadi Rp280.000-290.000 dengan penambahan 10.000 pelanggan per tahun.
Telco Terbesar Kedua : IDR Indosat mencerminkan posisinya sebagai operator seluler terbesar kedua di Indonesia, dengan pangsa pasar pendapatan sebesar 25% pada 9M23, lebih tinggi dari XL yang sebesar 17%. Bagi hasil tersebut masih di bawah perkiraan pangsa pelanggan sebesar 29% pada akhir-3Q23 mengingat ARPU lebih rendah dibandingkan Telkomsel dan XL. Kami berharap Indosat dapat mempertahankan pangsa pasar pendapatan selulernya, didukung oleh kenaikan harga, perluasan jaringan, dan peningkatan kualitas jaringan. Saat ini Telkomsel merupakan penyedia fixed-broadband terbesar ketiga di Indonesia setelah Link Net dan Telkomsel.
Related News
Laba PTMR Melonjak 154 Persen Q1 2026, Saham Jalani Suspensi
Kinerja Moncer, Laba BCIP Melonjak 225 Persen Q1 2026
Drop 109 Persen, EMTK Kuartal I Boncos Rp335,85 Miliar
GGRP Comeback! Cetak Laba Melesat 120 Persen Q1 2026
Ekuitas Berlimpah, Pendapatan INET Melangit 3.070 Persen Kuartal I
Sudahi Kuartal I, Laba ADRO Melambung 67,08 Persen





