EmitenNews.com - Pasar saham kawasan Asia menghentikan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut pada perdagangan Selasa. Penguatan ini didorong oleh melandainya harga minyak mentah dunia setelah pihak Iran memberi sinyal penerimaan usulan gencatan senjata selama 10 hari dari para mediator.

Sinyal de-eskalasi konflik tersebut memberikan sentimen positif bagi pergerakan bursa saham kawasan, termasuk potensi dampaknya terhadap Pasar Saham Indonesia (IHSG). Penurunan harga energi global ini mengurangi kecemasan pasar domestik terkait tekanan inflasi impor dan kenaikan beban biaya manufaktur.

Berdasarkan data BigGo Finance pada Selasa, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,38 persen menjadi USD 88,88 per barel pada perdagangan awal. Angka ini mundur dari titik puncak satu bulan pada sesi sebelumnya di level USD 91,42 per barel. Penurunan terjadi usai pejabat senior Iran menyatakan sedang meninjau rencana gencatan senjata sementara usai konflik meletus sejak 28 Februari lalu.

Retorika yang mereda membantu mengimbangi kekhawatiran pasokan yang sebelumnya dipicu ancaman blokade angkatan laut Houthi Yaman terhadap Arab Saudi.

Indeks saham Asia-Pasifik terluas MSCI di luar Jepang mencatatkan kenaikan 0,25 persen. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak lebih dari 1 persen, sementara KOSPI Korea Selatan melonjak hampir 3 persen. Kontrak berjangka saham AS naik tipis, meski kontrak berjangka Eropa menunjukkan penurunan 0,6 persen pada pembukaan.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati risiko eskalasi serta ketatnya kebijakan moneter global.

"Saya pikir kita berada dalam situasi yang sangat aneh di mana investor masih mencoba melihat segala sesuatu dengan pandangan optimis," kata Nick Twidale, Kepala Ahli Strategi Pasar di ATFX Global di Sydney. Dia memperingatkan bahwa risiko eskalasi regional tetap akut.

Pasar berjangka kini memperkirakan kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 33 basis poin tahun ini, dengan kenaikan yang diperkirakan terjadi pada Oktober. Imbal hasil obligasi Treasury AS 2 tahun berada di level 4,206 persen, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun menembus level 5 persen.

"Kondisi ekonomi semakin menantang, dengan kenaikan harga energi dan suku bunga yang lebih tinggi memperumit prospek dan menunjukkan bahwa bahkan sektor perangkat keras AI pun tidak sepenuhnya kebal terhadap perkembangan yang lebih luas tersebut," kata Fred Neumann, Kepala Ekonom Asia di HSBC di Hong Kong.

Di pasar mata uang, Dolar AS relatif stabil. Euro diperdagangkan pada level USD 1,14145, sedangkan Yen berada di posisi 162,51 per Dolar AS.(*)