Peluang di CAEXPO 2026: Lompatan Ekspor Hilirisasi Hingga Transfer AI
:
0
CAEXPO ke-23 menjadi instrumen penting dalam menjaga tren positif neraca perdagangan bilateral. Pada 2025, total nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok menembus US$ 154,58 miliar atau tumbuh 21 persen secara tahunan.
EmitenNews.com - NANNING, Momentum integrasi ekonomi antara Tiongkok dan kawasan Asia Tenggara memasuki babak baru menyusul resmi dimulainya implementasi Protokol Upgrade Kawasan Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN (CAFTA 3.0). Memanfaatkan momentum strategis tersebut, delegasi Indonesia tampil agresif dalam gelaran The 23rd China-ASEAN Expo (CAEXPO) 2026 yang berlangsung di Nanning International Convention and Exhibition Center (NICEC), Guangxi, Tiongkok, pada 17–21 September 2026.
Tidak lagi bertumpu semata pada komoditas mentah, kehadiran Paviliun Indonesia seluas 2.000 meter persegi di Hall D5 mengusung dua agenda ekonomi krusial: mengunci komitmen hilirisasi bernilai tambah tinggi dan memburu adopsi teknologi berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) guna meningkatkan efisiensi industri nasional.
Transformasi Struktur Dagang: Menuju Hilirisasi Penuh
Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen RI) di Guangzhou, Arianto Surojo, menegaskan bahwa CAEXPO ke-23 menjadi instrumen penting dalam menjaga tren positif neraca perdagangan bilateral. Pada 2025, total nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok menembus US$ 154,58 miliar atau tumbuh 21 persen secara tahunan. Tren ekspansif tersebut berlanjut pada semester I-2026 dengan torehan nilai transaksi mencapai US$ 100,04 miliar.
"Indonesia bukan lagi sekadar pasar, melainkan eksportir produk bernilai tambah tinggi. Arah ekspor Indonesia ke depan tidak lagi berfokus pada bahan mentah, melainkan pada produk hilirisasi seperti besi, baja, dan feronikel," ujar Arianto di sela peresmian Paviliun Indonesia.
Bagi kalangan investor pasar modal, pergeseran portofolio ekspor ini menjadi konfirmasi atas keberlanjutan ekspansi kapasitas smelter dan rantai pasok industri nikel serta mineral olahan domestik.
Optimisme tersebut didukung oleh rekam jejak realisasi komitmen transaksi Indonesia di CAEXPO yang terus menanjak. Berdasarkan rekapitulasi Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan:
CAEXPO 2022: US$ 54,2 juta (didominasi batu bara dan kelapa sawit mentah); CAEXPO 2023: Rp106,45 miliar (mulai beralih ke makanan olahan siap konsumsi); CAEXPO 2024: Rp479,40 miliar (penetrasi produk turunan kelapa sawit dan pangan matang); CAEXPO 2025: Rekor tertinggi US$ 132,07 juta atau sekitar Rp2,17 triliun. ?
Pada gelaran 2026 ini, Kementerian Perdagangan RI menunjuk PT Pandu Arjuna (PAR) Indonesia sebagai mitra pelaksana untuk memacu komoditas unggulan baru, mencakup makanan olahan halal, sarang burung walet siap konsumsi, furnitur, hingga perhiasan.
Sentimen Tarif CAFTA 3.0 dan Ekspansi Kawasan Industri
Wakil Ketua Umum Bidang Diplomasi Multilateral Kadin Indonesia, Andi Anzhar Cakra Wijaya, memaparkan bahwa CAFTA 3.0 menghadirkan insentif berupa pemangkasan tarif bea masuk lanjutan serta simplifikasi hambatan non-tarif. Skema ini membuka peluang integrasi rantai pasok manufaktur dan UMKM nasional secara regional.
Di sisi pengembangan kawasan ekonomi, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad memimpin langsung diplomasi investasi untuk Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (FTZ) Bintan-Karimun. Posisi geografis FTZ di Selat Malaka dinilai menjadi daya tarik bagi pemodal Tiongkok yang ingin mendirikan fasilitas manufaktur berorientasi ekspor bebas bea ke pasar ASEAN.
Mengunci Efisiensi Logistik Lewat AI dan Satelit N-GSO
Pembeda utama CAEXPO 2026 terletak pada penekanan infrastruktur digital. Wakil Perdana Menteri Pertama Tiongkok Ding Xuexiang, saat membuka pameran bersama Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn, menegaskan komitmen Tiongkok memfasilitasi keterbukaan perdagangan jasa dan transfer arsitektur teknologi cerdas melalui inisiatif AI Grand Marketplace.
Langkah ini langsung ditangkap oleh delegasi domestik. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI memimpin misi penyerapan kerangka kota pintar (smart city) berkelanjutan. Di ranah industri, Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menjalin kerja sama konkret dengan China-ASEAN AI Application Cooperation Center.
Related News
Ada Hashim Djojohadikusumo dalam Pengembangan Gas Natuna D-Alpha
Anggaran Subsidi dan Kompensasi Rp331T, Bengkak Sampai 52 Persen
Utang Baru Tambah Rp506 Triliun, Kemenkeu Beberkan Peruntukannya
Kinerja Membaik, Laba Petrosea (PTRO) Melonjak Berlipat-lipat, 613%
Tunggu Platform Siap, Pajak Marketplace Berlaku Mulai 1 November
BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25%, Tertinggi dalam 31 Tahun





