"Kami merekomendasikan untuk tetap berinvestasi di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah di tengah ekspektasi bahwa BI tidak lagi menaikkan suku bunga acuan tersebut, " imbuh Christian.


Potensi dari Pasar Saham

 

Chief Investment Officer Jagartha Advisors Erik Argasetya menjelaskan terdapat potensi dari pasar saham di akhir kuartal pertama tahun ini bagi investor yang dapat mempunyai time horizon investasi lebih jangka panjang. Sebab, biasanya emiten-emiten saham akan memberikan dividen dari laporan laba bersihnya tahun lalu.

 

"Kami melihat saham berkapitalisasi besar terutama seperti sektor perbankan dan saham berbasis komoditas ekspor Indonesia diproyeksikan akan memberikan dividen yang cukup menarik pada tahun ini. Dengan terbatasnya jumlah eksplorasi dan jumlah arus kas bersih yang besar akan membuat saham berbasis batubara mendominasi pembagian dividen jumbo," ujar Erik.

 

Di samping itu, menurut Erik, Ramadhan Effect biasanya akan mendorong reksadana saham yang memiliki portofolio di saham-saham berbasis peternakan unggas, konsumen, dan ritel." sebut Erik.

 

Kemudian, Managing Partner Bareksa Prioritas Jimmy Teh mengingatkan investor HNWI untuk tetap melakukan diversifikasi di berbagai kelas aset untuk meminimalisir risiko dan aksi berjaga-jaga. Reksadana pasar uang nilainya cenderung stabil dan sifatnya likuid sehingga memiliki kemiripan seperti memegang uang cash.

 

"Investor yang risk averse dapat menambah alokasi dana di reksadana pasar uang. Sementara investor yang risk taker dapat menjaga risikonya dengan menaruh sebagian di pasar uang dan sisanya dialokasikan di reksadana saham maupun pendapatan tetap, atau dengan memilih instrumen reksadana campuran," tambah Jimmy.