EmitenNews.com - Investor kawakan Hartarto Ciputra kembali memperkuat posisinya di pasar modal dalam negeri. Selaku pemegang saham PT Wahana Inti Makmur Tbk. (NASI), Hartarto dilaporkan telah menambah porsi kepemilikan sahamnya secara bertahap dalam kurun waktu tiga hari berturut-turut pada pekan lalu.

Aksi korporasi ini terungkap melalui laporan resmi manajemen perseroan ke publik. Manajemen NASI dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu, 18 Juli 2026, menyampaikan bahwa Hartarto Ciputra telah melakukan serangkaian pembelian saham secara berkala pada tanggal 14 Juli hingga 16 Juli 2026.

Dalam rincian transaksi tersebut, Hartarto tercatat membeli saham NASI dalam tiga kali tahapan. Pembelian tersebut meliputi 405.300 lembar saham, dilanjutkan dengan 1 juta lembar saham, serta sebanyak 406.800 lembar saham. Seluruh rangkaian transaksi pembelian ini dieksekusi pada tingkat harga Rp117 hingga Rp121 per lembar saham.

Pihak manajemen PT Wahana Inti Makmur Tbk. menegaskan bahwa pembelian massal ini murni dilakukan untuk memperkuat portofolio personal yang bersangkutan di emiten produsen dan pemasok beras tersebut.

Tujuan dari transaksi untuk Investasi dengan kepemilikan saham langsung, tutur manajemen NASI dalam rilis resminya yang dikutip dari iqplus.info.

Akibat akumulasi pembelian yang dilakukan selama pertengahan Juli ini, struktur kepemilikan saham dalam emiten berkode saham NASI tersebut mengalami perubahan signifikan. Pasca transaksi ini selesai dilakukan, maka kepemilikan saham total atas nama Hartarto Ciputra di NASI kini melonjak menjadi 7,37 miliar lembar saham atau setara dengan 5,81 persen dari seluruh saham yang beredar.

Jumlah tersebut meningkat cukup tajam jika dibandingkan dengan posisi kepemilikan Hartarto sebelum rangkaian transaksi dilakukan, di mana dirinya menguasai sebanyak 7,15 miliar lembar saham atau setara dengan 5,58 persen.

Aksi borong saham yang dilakukan oleh salah satu pemegang saham utama ini menjadi angin segar sekaligus daya tarik tersendiri bagi dinamika pasar ekuitas domestik, khususnya di sektor industri barang konsumen primer di Indonesia. (*)