Pendapatan Tumbuh 201%, Laba Bersih INET Melesat 1.742% di Tahun 2025
jajaran manajemen INET. DOK/ISTIMEWA
EmitenNews.com -PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengumumkan laporan keuangan konsolidasian audited untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025, menandai tahun terbaik sepanjang sejarah operasional Perseroan sejak pertama kali mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia. Perseroan membukukan pertumbuhan yang luar biasa di seluruh lini kinerja finansial, mencerminkan keberhasilan strategi transformasi dari perusahaan internet service provider lokal menjadi grup infrastruktur digital terintegrasi yang diperhitungkan di pasar.
Pendapatan neto Perseroan pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp 91,82 miliar, melonjak 201% dibandingkan Rp 30,44 miliar yang dibukukan pada tahun 2024. Pertumbuhan yang akseleratif ini didorong oleh ekspansi kapasitas layanan IP Transit kepada pelanggan institusional baru, sekaligus mulai beroperasinya lini jasa konstruksi infrastruktur jaringan yang menambah diversifikasi sumber pendapatan Grup. Efisiensi operasional yang semakin matang tercermin dari gross margin yang meningkat tajam menjadi 47,8% di tahun 2025, dibandingkan 35,7% pada tahun 2024, menghasilkan laba bruto sebesar Rp 43,89 miliar atau tumbuh 304% year-on-year. Laba usaha Perseroan melonjak luar biasa menjadi Rp 30,32 miliar dari hanya Rp 1,31 miliar pada tahun sebelumnya, dengan EBIT margin mencapai 33,0% — suatu pencapaian yang mencerminkan skala bisnis yang semakin efisien dan kontrak-kontrak bernilai tinggi yang mulai memberikan kontribusi penuh.
Laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 24,49 miliar, tumbuh 1.742% dibandingkan Rp 1,33 miliar pada tahun 2024. Laba per saham dasar turut melonjak dari Rp 0,18 menjadi Rp 3,10, bahkan seiring dengan bertambahnya jumlah saham beredar akibat pelaksanaan waran — sebuah bukti nyata bahwa pertumbuhan laba Perseroan jauh melampaui dilusi kepemilikan yang terjadi.
Direktur Utama PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk, Muhammad Arif, menyatakan, "Tahun 2025 adalah tahun pembuktian. Apa yang kami bangun dalam beberapa tahun terakhir — infrastruktur, ekosistem anak usaha, dan jaringan kemitraan strategis — sekarang mulai berbuah secara nyata dalam angka-angka yang terlihat di laporan keuangan ini. Pertumbuhan laba bersih sebesar 1.742% bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari kepercayaan pelanggan dan pasar terhadap kapabilitas INET sebagai mitra infrastruktur digital jangka panjang. Kami berkomitmen untuk terus membangun fondasi yang kokoh demi pertumbuhan yang berkelanjutan dan penciptaan nilai bagi seluruh pemegang saham".
Dari sisi neraca, total aset konsolidasian Perseroan per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 760,37 miliar, tumbuh 231% dari Rp 229,85 miliar pada akhir tahun 2024. Kas dan setara kas Perseroan melonjak signifikan menjadi Rp 404,44 miliar dari Rp 61,91 miliar, mencerminkan likuiditas yang sangat kuat untuk mendukung agenda ekspansi ke depan. Total ekuitas Perseroan hampir berlipat dua menjadi Rp 429,21 miliar dari Rp 215,87 miliar, sementara rasio Net Debt to Equity tercatat sehat di 17,07%, turun dari 22,20% pada tahun sebelumnya — menandakan struktur permodalan yang semakin kuat dan konservatif.
Komisaris Utama Perseroan, Saripudin, menambahkan, "Dewan Komisaris menyambut dengan sangat positif kinerja manajemen yang telah berhasil mengakselerasi pertumbuhan Perseroan secara konsisten dan terukur. Kami melihat bahwa INET tidak hanya tumbuh dalam ukuran, tetapi juga dalam kualitas — tercermin dari margin yang semakin baik, struktur permodalan yang sehat, dan portofolio aset infrastruktur yang semakin produktif. Dengan dukungan rights issue HMETD I yang berpotensi menghimpun dana hingga Rp 3,2 triliun, kami optimis INET akan segera bertransisi ke liga pemain infrastruktur digital kelas berikutnya di Indonesia".
Sepanjang tahun 2025, Perseroan juga secara aktif memperkuat fondasi infrastruktur jangka panjangnya. Perseroan melakukan pembayaran uang muka Indefeasible Right-of-Use atau IRU kabel serat optik bawah laut sebesar Rp 48,51 miliar untuk rute strategis Batam–Singapura, yang akan menjadi tulang punggung konektivitas internasional Grup di masa mendatang. Belanja modal aset tetap mencapai Rp 44,75 miliar, naik drastis dari Rp 10,13 miliar pada tahun 2024, seiring dengan perluasan kapasitas jaringan yang masif. Di saat bersamaan, Perseroan menyelesaikan pendirian PT Internet Anak Bangsa (IAB) pada Mei 2025 sebagai entitas konstruksi infrastruktur telekomunikasi, serta mengakuisisi 99,96% saham PT Garuda Prima Internetindo (GPI) pada September 2025 untuk memperluas cakupan layanan ISP Grup.
Dari sisi aksi korporasi, Perseroan berhasil mencatat pelaksanaan Waran Seri I sebanyak 2.081.075.296 saham yang menyerap dana segar sebesar Rp 189,47 miliar dari pasar — sebuah sinyal kepercayaan investor yang sangat kuat. Pada 22 Desember 2025, Perseroan pun memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan untuk melaksanakan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (HMETD I), dengan penerbitan maksimal 12,8 miliar saham baru pada harga pelaksanaan Rp 250 per saham disertai 2,304 miliar Waran Seri II. Langkah ini menjadi platform pendanaan strategis yang akan memungkinkan Perseroan mempercepat pembangunan jaringan FTTH berbasis WiFi 7 di Bali dan Lombok, menyelesaikan pembayaran IRU kabel bawah laut, serta mengakselerasi pertumbuhan ekosistem anak usaha.
Related News
DCII Ekspansi Data Center di 2026, Eskalasi Kapasitas Hingga 2.000 MW
Pasca Diakuisisi INET, PADA Sukses Balikkan Rugi Jadi Laba di 2025
Laba MAPA Tembus Rp1,7 Triliun, Telisik Ini Penyebabnya
Grup Astra (UNTR) Eksekusi Transaksi USD10 Juta
Putus Tren Negatif, Laba PZZA Melambung 133,98 Persen
LABS Catat Pertumbuhan Laba Bersih 350 Persen





