Pendapatan Turun, RMKE Siapkan Strategi Balikkan Kinerja 2026
Penampungan batu bara PT RMK Energy Tbk
EmitenNews.com - PT RMK Energy Tbk (RMKE) memberikan penjelasan atas penurunan kinerja pendapatan dan arus kas operasional sebagaimana tercermin dalam laporan keuangan per 30 September 2025.
Merujuk laporan keuangan tersebut, pendapatan Perseroan tercatat turun menjadi Rp1,12 triliun hingga akhir September 2025, dari sebelumnya Rp1,75 triliun pada periode yang sama tahun 2024.
Menjawab permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia, Sekretaris Perusahaan RMKE, Muhtar, mengungkapkan bahwa penurunan pendapatan terutama disebabkan melemahnya kinerja penjualan batu bara pada semester pertama 2025.
“Penurunan pendapatan terutama berasal dari penjualan batubara akibat turunnya harga batubara serta menurunnya permintaan dari China, seiring ketidakpastian perekonomian global yang dipicu isu perang dagang,” jelas Muhtar, dikutip Jumat, 16 Januari 2026.
Meski demikian, manajemen menegaskan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperbaiki tren pendapatan ke depan. Salah satunya dengan meningkatkan porsi penjualan batu bara ke pasar domestik.
Pada kuartal IV 2025, penjualan batu bara Perseroan disebut telah kembali normal dan bahkan menunjukkan tren peningkatan di awal 2026.
Selain itu, RMKE juga mendorong peningkatan volume angkutan batu bara melalui jalan hauling milik Perseroan. Jalan hauling tersebut kini telah terhubung dengan tambang WSL dan DBU yang mulai menggunakan jasa RMKE sejak kuartal III 2025, serta tambang MME yang terhubung pada kuartal IV 2025.
“Ke depan, Perseroan akan terus menjajaki kerja sama dengan tambang-tambang potensial lainnya. Peningkatan volume ini diharapkan mendorong efisiensi, karena biaya tetap dapat dibebankan pada volume angkutan yang lebih besar,” ujarnya.
Untuk mendukung kapasitas dan efisiensi operasional, Perseroan juga melakukan peningkatan kualitas jalan hauling melalui penerapan lapisan chipseal.
Sementara itu, dari sisi arus kas, kemampuan kegiatan operasional RMKE tercatat mengalami tekanan. Hingga 30 September 2025, arus kas operasional Perseroan membukukan defisit Rp65 miliar, berbalik dari posisi surplus Rp159 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Muhtar menjelaskan, arus kas operasional negatif tersebut bersifat sementara dan terutama disebabkan oleh peningkatan persediaan serta piutang usaha.
“Beberapa kontrak trading batu bara baru diselesaikan di kuartal IV. Pembayaran pembelian batu bara sudah dilakukan pada kuartal III, sementara penerimaan dari penjualan baru masuk di kuartal IV,” jelasnya.
Dengan strategi peningkatan penjualan dan volume angkutan yang telah dijalankan, manajemen optimistis kemampuan operasional Perseroan untuk kembali mencetak surplus kas akan terus membaik ke depan.
Terkait likuiditas, RMKE juga menjelaskan penggunaan fasilitas cerukan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut manajemen, cerukan dipilih karena memberikan fleksibilitas penarikan dan pembayaran, sehingga beban bunga dapat ditekan lebih rendah dibandingkan fasilitas modal kerja lainnya.
“Perseroan tetap menerapkan kebijakan konservatif dalam pengambilan pinjaman dan pengelolaan likuiditas,” tegas Muhtar.
Related News
Ini Alasan Gozco Borong Saham Bank Neo (BBYB) Nyaris Rp100 Miliar
Raharja Energi Cepu (RATU) Habiskan Seluruh Dana IPO Rp212,2 Miliar
Performa Solid, Bank Mandiri (BMRI) Bagikan Dividen Interim Rp9,3T
Dua Petinggi Eksekusi 63,1 Juta MESOP TOWR, Terakumulasi Rp28 Miliar
Tambah Muatan, Gozco Gulung 207 Juta Saham BBYB
Lagi, Astra (ASII) Buyback Rp2 Triliun





