EmitenNews.com - Harita Jayaraya mengurangi timbunan saham Trimegah Bangun Persada (NCKL). Itu dilakukan sang pengendali tersebut dengan melego 991.134.000 helai alias 991,13 juta helai. Rentetan transaksi tersebut dilakukan bertahap sebanyak enam kali.

Divestasi tersebut dilakukan dengan kisaran harga pelaksanaan Rp1.180-1.412 per helai. Nah, dengan skema harga tersebut, Harita Jayaraya merengkuh dana taktis senilai Rp1,38 triliun. Serangkaian transaksi tersebut dilakukan enam kali dengan rincian sebagai berikut. 

Pada 26 September 2025, Harita melepas 13.134.000 helai Rp1.186 per saham senilai Rp15,57 miliar. Pada 29 September 2025, Harita kembali menjual 150.000 saham Rp1.180 per lembar sebesar Rp177 juta. Selanjutnya, pada 14 Oktober 2025, Harita melego 9.600.000 helai Rp1.203 per saham senilai Rp11,54 miliar.

Kemudian, pada 6 Januari 2026, Harita mendivestasi 3.500.000 saham Rp1.277 sejumlah Rp4,46 miliar. Pada 7 Januari 2026, kembali Harita melepas 2.250.000 lembar dengan harga Rp1.412 per helai sebesar Rp3,17 miliar. Da, terakhir pada 26 Februari 2026, menjual 962.500.000 helai dengan harga Rp1.400 per saham senilai Rp1,34 triliun.

Dengan penuntasan transaksi itu, koleksi saham Trimegah Bangun Persada dalam pangkuan Harita tersisa 50,34 miliar eksemplar alias setara dengan 79,79 persen. Tergerus 1,57 persen dari episode sebelum transaksi dengan tabulasi 51,33 miliar saham atau selevel dengan 81,36 persen. 

Langkah radikal pengendali itu, mendapat reaksi negatif pasar. Saham NCKL sepanjang perdagangan kemarin berada di zona merah. Itu dengan menukik 95 poin alias 6,17 persen menjadi Rp1.445. Lima hari terakhir, saham NCKL drop 100 poin atau 6,47 persen dari edisi 24 Februari 2026 di posisi Rp1.545. (*)