EmitenNews.com - Pergantian posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia tengah ramai diperbincangkan. Ini setelah Juda Agung mengajukan pengunduran diri ke Presiden RI Prabowo Subianto pada 13 Januari 2026.

Sekilas profil Juda, pria kelahiran Pontianak 62 tahun silam itu telah menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI No.147/P Tahun 2021 tanggal 24 Desember 2021, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 6 Januari 2022 dengan masa jabatan sampai 2027.

Sebelum mengisi jabatannya itu, Juda menjabat sebagai Asisten Gubernur yang membawahi Stabilitas Sistem Keuangan dan Kebijakan Makroprudensial periode 2020-2022. Jabatan tersebut diemban setelah menjadi Direktur Eksekutif Internasional Monetary Fund (IMF) di Washington DC, Amerika Serikat periode 2017-2019.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan, atas kekosongan jabatan Deputi Gubernur tersebut maka Gubernur Bank Indonesia telah merekomendasikan calon kepada Presiden. Selanjutnya, Presiden mengusulkan dan mengangkat Deputi Gubernur terpilih sebagaimana persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

Hal ini diatur pada Pasal 41, Pasal 48, dan Pasal 50 UU Bank Indonesia sebagaimana terakhir diubah oleh UU No. 3 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Ramdan juga menerangkan, Bank Indonesia akan tetap fokus pada tugas utama untuk mencapai dan memelihara stabilitas nilai rupiah, memelihara kelancaran sistem pembayaran, dan menjaga stabilitas sistem keuangan yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Termasuk saat ini Bank Indonesia akan fokus pada pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Januari 2026 yang keputusannya akan diumumkan pada hari ini (Rabu, 21/1).

Nilai Tukar Rupiah dan Independensi

Kekosongan posisi Deputi Gubernur langsung memunculkan beragam spekulasi yang akan mengganti Juda. Beberapa nama pun muncul.

Mulai dari Wakil Menteri Keuangan Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono hingga pejabat internal BI yakni Dicky Kartikoyono dan Solikin M. Juhro. Dua nama terakhir disebut paling berpeluang menggantikan Juda sebagai Deputi Gubernur, namun nama Thomas tetap tak kalah bersaing.

Menanggapi kabar itu, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto melihat, pergantian posisi Deputi Gubernur BI tersebut ada keterkaitan nilai tukar rupiah yang terus merosot. Jika mengacu kurs JISDOR, nilai tukar rupiah hingga 20 Januari 2026 sudah melemah 1,56% dari posisi akhir 2025 Rp16.720 per USD menjadi Rp16.981 per USD.