EmitenNews.com - Indeks saham Asia sore ini Rabu (12/1) ditutup naik. Komentar ketua bank sentral AS (Federal Reserve) Jerome Powell berhasil meyakinkan investor bahwa kenaikan suku bunga dan kebijakan moneter yang lebih ketat diperlukan untuk memerangi lonjakan inflasi.


Investor juga menyambut baik redanya tekanan inflasi di Tiongkok. Data memperlihatkan bahwa inflasi di tingkat produsen (Producer Price Index atau PPI) tumbuh 10.3% Y/Y di bulan Desember, melambat dari pertumbuhan 12.9% Y/Y di bulan November.


Sementara itu inflasi di tingkat konsumen (Consumer Price Index atau CPI) naik 1.5% Y/Y di bulan Desember, melambat dari kenaikan 2.3% Y/Y di bulan November.


"Moderasi pada kedua data ini membentuk ekspektasi bahwa bank sentral Tiongkok (PBOC) akan memangkas suku bunga acuan untuk pertama kali sejak April 2020, paling cepat minggu depan," ulas analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha.


Pemerintah Tiongkok memang berjanji akan melakukan kebijakan yang lebih pro pertumbuhan tahun ini di tengah lesunya pasar properti dan masih sering terjadinya ledakan kasus penularan virus Covid-19 yang dapat mengancam prospek ekonomi.


Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS, zona Euro dan Tiongkok dan memperingatkan bahwa beban utang yang tinggi, ketimpangan pendapatan yang semain melebar serta varian baru virus Covid-19 mengancam pemulihan ekonomi negara-negara berkembang.


Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 4.1% tahun ini dari 5.5% tahun lalu dan semakin melambat menjadi 3.2% di tahun 2023 karena hilangnya permintaan yang tidak terpenuhi (pent-up demand) dan penarikan paket stimulus ekonomi (moneter dan fiskal) di seluruh dunia.


Bank Dunia meramalkan pertumbuhan ekonomi (PDB) AS tahun 2021 hanya mencapai 5.6% dan terus melambat menjadi 3.7% di 2022 dan 2.6% di 2023 sementara PDB Jepang di estimasi tumbuh 1.7% di tahun 2021 dan kemudian tumbuh 2.9% di 2022.


Ekonomi Tiongkok diyakini ekspansi hingga 8% di 2021 dan akan melambat menjadi 5.1% di 2022 dan 5.2% di 2023.


Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di prediksi turun menjadi 4.6% di 2022 dari 6.3% (2021) dan melanjutkan perlambatan menjadi 4.4% di 2023. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang akan tertahan di bawah level sebelum pandemik.


Untuk malam nanti, Dustin memperkirakan investor menantikan rilis data inflasi (CPI) bulan Desember AS.


Statistik
IHSG: 6,647.06 | -0.90 poin |(-0.01%)
Volume (Shares) : 22.3 Billion
Total Value (IDR) : 12.0 Trillion
Market Cap (IDR) : 8,332.9 Trillion
Foreign Net BUY (RG): IDR 948.0 Billion
Saham naik : 189
Saham turun : 346


Sektor Penekan Terbesar:
Teknologi : -189.23 poin
Keuangan : -16.31 poin
Properti & Real Estat : -7.34 poin


Top Gainers:
BYAN : 28,650| +1,300| +4.75%
GGRM : 32,175| +1,075| +3.46%
BRAM : 10,900| +950| +9.55%
HRUM : 11,600| +700| +6.42%
BEBS : 5,025| +425| +9.24%


Top Losers:
DSSA : 46,475| -3,475| -6.96%
DCII : 41,025| -950| -2.26%
SMMA : 11,000| -775| -6.58%
BBHI : 6,800| -500| -6.85%
ARTO : 17,850| -475| -2.59%.(fj)