EmitenNews.com - PT Oxala Energy International Tbk (PIPA) mengungkapkan rencana akuisisi perusahaan pengolahan gas alam masih dalam tahap negosiasi. Perseroan menargetkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat atas Saham atau Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) pada Agustus 2026.

"Negosiasi mengenai skema akuisisi Perusahaan Target yang bergerak di bidang Pengolahan Gas Alam masih terus berproses," ujar Corporate Secretary PIPA Haerul Maelani dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, Rabu (26/8/2026).

Sebelumnya, Haerul menyampaikan, perusahaan target tersebut telah beroperasi sekitar 14 tahun. Sebelum masuk ke bisnis pengolahan minyak dan gas bumi, perusahaan menjalankan usaha perdagangan alat teknik, konstruksi, dan jasa konsultan teknik dengan omzet sekitar Rp40 miliar per tahun.

Sejak 2025, perusahaan target mulai melakukan ekspansi ke sektor pengolahan minyak dan gas bumi dan telah memperoleh kontrak strategis dengan nilai lebih dari USD100 juta.

Dari sisi aset, perusahaan target memiliki total aset sekitar Rp476 miliar per 31 Desember 2025. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp920 miliar pada akhir 2026.

Perusahaan target juga diproyeksikan memiliki potensi pendapatan sekitar Rp250 miliar per tahun dengan margin EBITDA sekitar 60%.

Jika transaksi akuisisi terealisasi, PIPA menyebut bisnis pengolahan gas bumi perusahaan target akan menjadi sumber pertumbuhan baru (new growth engine) bagi perseroan sekaligus memperkuat transformasi bisnis ke sektor energi.

Dari sisi pelaporan keuangan, PIPA memperkirakan laporan keuangan perusahaan target mulai dapat dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan perseroan pada tahun buku 2027.

Manajemen juga menyebut proyeksi keuangan perusahaan target berpotensi meningkatkan laba bersih PIPA secara signifikan setelah konsolidasi. Namun, besaran kontribusi terhadap laba belum diungkapkan secara spesifik dalam informasi tersebut.

Selain dampak terhadap laba, PIPA menilai transaksi tersebut berpotensi memperbaiki sejumlah indikator fundamental saham perseroan, termasuk rasio price to earnings (PER) dan price to book value (PBV).