EmitenNews.com - Techno9 Indonesia (NINE) mengumumkan langkah strategis. Tindakan tersebut mendapat dukungan penuh dari pemegang saham mayoritas, Poh Group asal Singapura. Dukungan itu, akan direalisasikan melalui integrasi aset tambang berlokasi di Mongolia ke dalam portofolio NINE melalui mekanisme right issue.

Aksi korporasi tersebut menandai babak baru transformasi bisnis NINE menjadi pemain sektor pertambangan, baik di Indonesia maupun kawasan regional. Ekspansi bisnis itu, merupakan tindak lanjut strategis sesuai peta jalan Poh Group sebagai pemegang saham mayoritas perseroan.

Direktur Utama Techno9 Indonesia, Nuzwan Gufron mengatakan, opsi pembelian aset tambang di Mongolia milik Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR) akan berdampak positif terhadap pemegang saham perseroan. ”Integrasi aset-aset Mongolia dalam Techno9 Indonesia bakal berdampak positif bagi para pemegang saham, khususnya apabila opsi pembelian aset pertambangan PGGR di Mongolia dilaksanakan. Itu membuka jalur lebih terstruktur untuk monetisasi aset, dan memperkuat keterlibatan Techno9 Indonesia di masa depan dalam proyek-proyek pertambangan,” tutur Nuzwan.

PGGR telah meneken framework agreement untuk kerja sama pertambangan dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia. EPC+F tersebut berencana melakukan investasi sebesar lebih dari USD100 juta untuk mengimplementasikan operasional pertambangan proyek-proyek Poh Group atau NINE dan PGGR, dengan kapasitas produksi tahunan diproyeksikan lebih dari 20 juta ton. 

Melalui kemitraan strategis itu, Poh Group dan NINE tidak akan menanggung belanja modal (capex), baik untuk tambang milik sendiri maupun kerja sama operasi dengan Poh Group dan NINE. “Realisasi rencana investasi bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence), dan persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri alias Overseas Direct Investment (ODI) otoritas Tiongkok. Jumlah investasi aktual akan disesuaikan dengan besaran persetujuan atau pencatatan yang diperoleh,” imbbuhnya.

Menurut Nuzwan, calon mitra EPC+F tersebut telah berpengalaman luas dalam eksploitasi pertambangan dan manajemen operasi termasuk menyelesaikan investigasi khusus atas tambang-tambang di Mongolia, Indonesia, dan negara lainnya. Entitas tersebut telah berdiri sejak 1998 dengan jumlah karyawan lebih dari 1.000 orang dan total aset mencapai lebih dari USD500 juta. “EPC+F ini memiliki dasar yang kuat untuk kerja sama pertambangan lintas negara,” ungkapnya.

Nuzwan menambahkan, NINE akan terus melakukan penjajakan dan pengembangan berbagai peluang usaha di Indonesia maupun di kawasan regional guna memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi para pemegang saham. “Perkembangan ini juga berpotensi memberikan dampak material terhadap rencana investasi pertambangan Poh Group di Indonesia di masa mendatang, baik melalui skema Kerja Sama Operasi (Joint Operation) maupun kepemilikan langsung,” terang Nuzwan.

Aset tambang Mongolia akan diintegrasikan dalam NINE dimiliki 100 persen oleh Poh Kay Ping, saat ini menguasai dua konsesi pertambangan batu bara, dan semi-soft coking coal. PGGR dan pihak-pihak terafiliasi dalam Poh Group termasuk NINE akan terus mendorong kerja sama pertambangan lintas negara.

NINE berencana mendaftarkan right issue dalam mengintegrasikan aset Mongolia paling telat pada kuartal II-2026. Perseroan memastikan langkah akuisisi aset tambang Mongolia tidak berdampak terhadap kas perseroan. “Tidak terdapat biaya untuk mengakuisisi aset tambang Mongolia, aset tersebut akan dimasukkan dalam perseroan melalui proses right issue,” jelas Nuzwan. (*)