Prajogo Belum Tergusur, Harta Susut USD2,3 M, Idola Investor Ritel
:
0
Orang terkaya se Indonesia Prajogo Pangestu. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Prajogo Pangestu masih memuncaki klasemen orang tertajir nasional. Owner Grup Barito itu, kukuh di posisi pertama dengan pundi-pundi kekayaan USD18,6 miliar. Prajogo mengungguli bos emiten raksasa batu bara Bayan Resources, Low Tuck Kwong USD16,1 miliar, dan taipan pemilik Grup Djarum dan BCA R. Budi Hartono USD16,1 miliar.
Berdasar data Forbes melalui The Real-Time Billionaires, Minggu, 17 Mei 2026, kekayaan Prajogo itu, susut USD2,3 miliar dibanding awal Mei 2026 senilai USD20,9 miliar. Menyusul Anthoni Salim USD11,2 miliar, turun USD0,7 miliar dari USD11,9 miliar. Tahir & keluarga dengan tabulasi USD9 miliar, terkoreksi USD0,7 miliar dari USD9,7 miliar. Sri Prakash Lohia mengemas USD8,7 miliar, terdilusi USD0,1 miliar dari USD8,8 miliar.
Otto Toto Sugiri meraup sejumlah USD8,5 miliar, melonjak USD0,1 miliar dari USD8,4 miliar. Marina Budiman mendulang harta sejumlah USD6,1 miliar, surplus USD0,1 miliar dari USD6,0 miliar. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono sebesar USD5 miliar, berkurang USD0,3 miliar dari USD5,3 miliar. Dan, Haryanto Tjiptodihardjo sebesar USD4,6 miliar turun USD0,4 miliar dari USD5,0 miliar.
Dengan demikian, daftar 10 orang terkaya indonesia dari Sabang sampai Merauke menjadi sebagai berikut. Prajogo Pangestu USD18,6 miliar, Low Tuck Kwong USD16,1 miliar, R. Budi Hartono USD16,1 miliar, Anthoni Salim USD11,2 miliar, Tahir & keluarga USD9 miliar, Sri Prakash Lohia USD8,7 miliar, Otto Toto Sugiri USD8,5 miliar, Marina Budiman USD6,1 miliar, Lim Hariyanto Wijaya Sarwono USD5 miliar, dan Haryanto Tjiptodihardjo USD4,6 miliar.
Buntut MSCI
Perosotan kekayaan itu seiring koreksi sejumlah saham emiten Prajogo di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Terutama setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI), mendepak enam saham Indonesia dari Global Standard Indexes. Tiga dari enam emiten itu, milik Prajogo yaitu Barito Energy (BREN), Chandra Asri (TPIA), dan Petrindo Jaya (CUAN).
Koreksi paling dalam dialami BREN dengan anjlok 410 poin alias 11,36 persen menjadi Rp3.200. Sejak awal tahun anjlok 66,93 persen dari Rp3.430. CUAN turun 95 poin setara 10,05 persen menjadi Rp850, sejak awal tahun terpangkas 1.440 poin atau 62,88 persen di k?saran Rp2.290. TPIA melerot 750 poin alias 14,85 persen menjadi Rp4.300, sejak awal tahun tekor 2.825 poin setara 39,65 persen di posisi Rp7.125.
Barito Pacific (BRPT) anjlok 200 poin setara 8,77 persen menjadi Rp2.080, sejak awal tahun turun 1.110 poin alias 34,8 persen dari Rp3.190. Petrosea (PTRO) terpangkas 350 poin alias 6,51 persen menjadi Rp5.025, sejak awal tahun susut 6.175 poin setara 55,13 persen dari Rp11.200. Dan, terakhir Chandra Daya (CDIA) turun 50 poin atau 4,72 persen menjadi Rp1.010, sejak awal tahun susut 705 poin setara 41,11 persen dari Rp1.715.
Komitmen Kawal Saham
Sebagai orang dengan harta tidak berseri, Prajogo tentu sangat menjaga reputasi. Sebelum huru hara MSCI pada 28 Januari 2026, dan serangan mendadak Amerika Serikat (AS) dan Israel atas Iran pada 28 Februari 2026, sejak awal kondisi market mengalami fluktuasi. Kondisi itu, berpengaruh pada sejumlah harga saham emiten besutan Prajogo.
Related News
Cum Dividen Hari Ini, Ada BJTM, TOTL hingga RATU
JPFA Cairkan Dividen Besok, Laba Kuartal I Meroket 167,64 Persen
Tinggalkan MSCI, Ini Cara Elegan AMMN Dongkrak Loyalitas Karyawan
Di Tengah Tantangan, Geoprima Solusi Perkuat Strategi Keberlanjutan
UVCR Perluas Dampak Bisnis Berkelanjutan melalui Inovasi Digital
Emiten Sinar Mas (DSSA) Rekrut Eks Presdir LPKR Jadi Wakil Lay Krisnan





