Price Impact Ratio, Jawaban atas Catatan MSCI?
:
0
Potret logo IDX di mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI).
EmitenNews.com - Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai penambahan kriteria price impact ratio dalam metodologi penentuan saham High Shareholding Concentration (HSC) jadi langkah tepat Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurut Wafi, hal itu disebut mampu mengukur seberapa mudah harga digerakkan oleh transaksi kecil, sekaligus menjawab keluhan yang disampaikan oleh MSCI ihwal coordinated trading.
Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, yakni pada Rabu (24/6) MSCI merilis Market Classification Review yang menyebutkan posisi Indonesia tetap di klasifikasi Emerging Market. Meski demikian, dua hal masih menjadi catatan bagi pasar modal Indonesia yakni ihwal transparansi kepemilikan saham dan dugaaan coordinated trading.
“Penambahan kriteria price impact ratio langkah maju yg nyata. Ini ukur seberapa mudah harga digerakkan transaksi kecil, yg persis jd keluhan MSCI soal coordinated trading,” ujar Wafi kepada EmitenNews, Rabu (15/7).
Kendati demikian, sebagaimana disebutkan MSCI dalam dokumen rilisnya, bahwa Indonesia perlu konsisten dalam menerapkan kebijakan tidak semata berdasarkan rencana aksi maupun pengumuman kriteria semata.
Karena, MSCI juga memperingatkan Indonesia jika hingga index review belum ada perkembagan signifikan, MSCI mempertimbangkan opsi guna menurunkan kelas Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market.
“Tapi MSCI sudah bilang yang menentukan adalah implementasi konsisten, bukan pengumuman kriteria. Nilai riilnya baru terbukti jika daftar HSC ini benar-benar di-enforce dan diperbarui rutin sampai November,” lanjut Wafi.
Senada, Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana juga menyebut price impact ratio menjadi bentuk keterbukaan metodologi BEI dalam menentukan suatu saham HSC. Menurutnya, dengan kriteria yang lebih terukur investor dan analist dapat melakukan perhitungan mandiri terkait potensi saham HSC.
“Saya memandang positif, ya. Mekanisme price impact merupakan bentuk keterbukaan metodologi, dengan kriteria yang jelas investor dan analyst dapat melakukan perhitungan sendiri terkait potensi suatu saham masuk HSC atau tidak,” ujarnya.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Aset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta menilai, pengumuman penambahan saham High Shareholding Concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan menjadi sentimen positif lainnya yang dapat memicu penguatan indeks. Penambahan 37 saham HSC diiringi dengan kriteria tambahan price impact ratio dalam metodologi penentuan saham HSC.
Related News
IHSG Sesi I (15/7) Teguh di Atas Level 6.000, 9 Sektor Bantu Penguatan
Rating Indonesia Sudah Aman di Mata Global? Analis Ingatkan Risiko Ini
Sektor Ini Dominasi Daftar 51 Saham HSC Terbaru
China Bersiap Sulap Ribuan Pulau Kosong Jadi Tambang Cuan
Kejar Insentif AS, Hyundai-SK Produksi Sel Baterai di Georgia
IHSG Pagi Berlanjut Menguat, Meski Ditekan Sentimen Rupiah & Minyak





