EmitenNews.com - Pemerintah menyiapkan total anggaran sebesar Rp17 triliun untuk membangun ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir secara nasional. Langkah ini menjadi sinyal positif sekaligus potensi katalis pertumbuhan bagi emiten pakan ternak (poultry) dan olahan pangan.

Sebagai tahap awal, pemerintah mengucurkan Rp2,2 triliun untuk mengebut pembangunan lima kawasan peternakan di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTB, dan Gorontalo. Proyek infrastruktur peternakan ini ditargetkan rampung dan beroperasi pada tahun depan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa proyek ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dengan total kesiapan anggaran yang jumbo.

"Anggarannya sudah turun, beliau sudah tanda tangan Rp2,2 triliun untuk lima. Total anggaran yang dipersiapkan pemerintah sekitar Rp17 triliun, tetapi bukan di sini saja," ujar Mentan dirilis dari laman Kementerian, Rabu (30/9).

Amran menegaskan bahwa lima pabrik pakan beserta fasilitas pembibitan (day old chick/DOC) ditargetkan selesai tahun depan. Seluruh proses administrasi dan alokasi anggaran telah dirampungkan sehingga pengerjaan fisik di lapangan dapat segera dipercepat.

Ekosistem terintegrasi ini mencakup penyediaan pakan, pembibitan, budidaya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan susu. Pembangunan pabrik pakan didekatkan dengan sentra produksi jagung lokal guna menekan biaya logistik serta efisiensi rantai pasok industri secara menyeluruh.

"Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu," jelas Amran mengenai kepastian penyerapan hasil produksi peternakan tersebut.

Pendekatan integrasi wilayah ini juga memanfaatkan potensi produksi jagung lokal dari daerah sekitar, seperti Bone dan Soppeng. Pemerintah menilai pengolahan jagung menjadi pakan di lokasi dekat sentra produksi akan memangkas ongkos distribusi antarpulau yang selama ini dibebankan pada biaya operasional.

Selain fasilitas pakan dan pembibitan ayam, pengembangan sapi perah dialokasikan secara khusus untuk mendorong ketersediaan susu nasional. Langkah ini diarahkan untuk memenuhi gizi masyarakat sekaligus memberikan dukungan jangka panjang bagi peningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas.

Di Sulawesi Selatan, kawasan peternakan terpadu dipusatkan di Kabupaten Bone di atas lahan seluas 150 hektare. Penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir ini diproyeksikan tidak hanya membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal, tetapi juga menjamin kepastian komersial bagi emiten peternakan dalam jangka panjang.(*)