EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih rawan terjadi aksi profit taking. Menilik potensi bursa regional melemah, dan depresiasi rupiah. Selain itu, kekhawatiran inflasi, dan koreksi ekonomi membayangi Indeks.
”Kami perkirakan Indeks bergerak pada rentang support 6.850, dan resisten 6.935,” tutur Alwin Rusli, Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Kamis (13/10).
Secara teknikal, Indeks telah berada di area support, dan akan menguji support. Sisi indicator MACD, dan stochastic mengarah ke bawah. Beberapa saham memiliki potensi naik untuk perdagangan hari ini antara lain AGII, UNTR, PTPP, BANK, dan BACA.
Indeks kemarin minus 0,43 persen menjadi 6.909. Sejumlah sektor mengalami koreksi antara lain sektor technology minus 2,97 persen, sektor consumer cyclicals tekor 1,36 persen, dan sektor transportasi dan logistik drop 1,24 persen. Investor asing membukukan net buy di pasar reguler Rp27,38 miliar dengan saham paling banyak dibeli BMRI, ADRO, dan BBRI.
Sementara itu, tiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street anjlok. Para pelaku pasar merespons pertemuan The Fed akan tetap mempertahankan kebijakan lebih ketat untuk memerangi inflasi di tengah pelemahan ekonomi. Selain itu, rilis kenaikan PPI juga menjadi kekhawatiran pelaku pasar soal inflasi masih tinggi.
Selain itu, para pelaku pasar juga akan menunggu rilis earning atau laporan keuangan kuartal tiga khususnya bank besar. Lalu, pemodal akan menunggu rilis data inflasi AS dengan perkiraan di kisaran 8 persen secara tahunan. Pagi ini, bursa Asia tersungkur. Indeks Nikkei 225 minus 0,31 persen, dan Kospi drop 0,60 persen. Jepang juga merilis PPI naik 9,7 secara tahunan untuk September. (*)
Related News
Mayoritas Sektor Menguat, IHSG Lompat 1,22 Persen ke Level 8.031
IHSG Bangkit ke 8.012 di Sesi I (9/2), Saham Emas Kompak Terbang
BTN Mantapkan Transformasi sebagai Mitra Finansial Keluarga Indonesia
Produksi Beras Awal 2026 Berpotensi Naik 15,79 Persen
Pertamina-SGN Bangun Pabrik Bioetanol Kapasitas 30 Ribu KL/Tahun
Purbaya Ajak Aparat Pajak Perbaiki Kinerja, Jangan Kalah Sama 'Pemain'





