Rupiah Sempat Tembus Angka Keramat 17.845 per Dolar AS
:
0
pelemahan Rupiah bukan sekadar kesalahan teknis moneter, melainkan akibat defisit neraca transaksi berjalan yang bersifat kronis. “Deindustrialisasi dini membuat kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB terus menurun, ekspor stagnan—bahkan jauh lebih rendah dibandingkan Vietnam yang mencatat ekspor 1,6 kali lipat Indonesia
EmitenNews.com - Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah belum juga mereda. Pada perdagangan Selasa (26 Mei 2026), mata uang Garuda sempat menembus level psikologis Rp17.845 per USD di pasar spot. Hingga kini Rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.845–Rp17.890 per USD, menandakan volatilitas tinggi meski intervensi otoritas moneter terus berlangsung.Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah tembus Rp 17.905/USD pada 11.54 WIB, sebelum kembali menguat hingga di Rp 17.870/USD pada siang hari. Pada perdagangan hari ini, rupiah dibuka di level RP 17.857/USD, melemah 0,31% dibanding hari sebelumnya di Rp 17.801/USD. Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga melemah terhadap mata uang Asia lain. Terhadap ringgit rupiah melemah 9,02%, dan dolar Singapura rupiah turun 7,38%. Bahkan terhadap rial Kamboja rupiah melemah 6,52%.
Pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen global dan masalah domestik yang lebih dalam. Dari luar, kebijakan The Fed yang masih higher for longer memperkuat dolar AS, sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu capital outflow dari pasar emerging markets. Di dalam negeri, permintaan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan dividen korporasi kuartal II semakin memperberat pasokan valas.
Namun, analis Anthony Budiawan dari Political Economy and Policy Studies (PEPS) mengingatkan bahwa akar masalahnya jauh lebih struktural. Menurutnya, pelemahan Rupiah bukan sekadar kesalahan teknis moneter, melainkan akibat defisit neraca transaksi berjalan yang bersifat kronis. “Deindustrialisasi dini membuat kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB terus menurun, ekspor stagnan—bahkan jauh lebih rendah dibandingkan Vietnam yang mencatat ekspor 1,6 kali lipat Indonesia—sementara utang luar negeri pemerintah terus meningkat untuk membiayai fiskal,” ujar Budiawan dalam catatannya 19 Mei lalu. Cadangan devisa pun tercatat turun menjadi US$146,2 miliar pada akhir April 2026, menyusut dari posisi sebelumnya dan semakin membatasi ruang intervensi.
Bank Indonesia (BI) sendiri telah merespons dengan langkah agresif. Selain triple intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN sekunder, BI pada 20 Mei 2026 menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak mengganggu pemulihan ekonomi dan menahan risiko imported inflation.
Dampak pelemahan kurs ini terasa sangat asimetris di kalangan emiten Bursa Efek Indonesia. Sektor importir seperti farmasi, konsumer, dan poultry langsung menghadapi lonjakan harga pokok penjualan yang menggerus margin jika tidak bisa menaikkan harga jual. Emiten infrastruktur, properti, dan maskapai penerbangan dengan utang valas besar tanpa hedging memadai juga terancam pembengkakan rugi selisih kurs serta kenaikan biaya avtur dan sewa pesawat.
Sebaliknya, emiten berbasis ekspor dan komoditas justru menuai keuntungan. Perusahaan pertambangan batu bara, nikel, serta produsen CPO mencatat windfall profit saat pendapatan dolar AS dikonversi ke Rupiah. Sektor kertas dan kayu (pulp & paper) yang berorientasi ekspor pun menikmati margin yang lebih tebal.
Di tengah gejolak ini, Budiawan mempertanyakan narasi yang terlalu cepat menjadikan Gubernur BI sebagai “kambing hitam”. “Siapa pun yang menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia tidak akan bisa banyak berbuat jika masalahnya bersifat struktural di luar kendali otoritas moneter,” katanya. Ia menambahkan bahwa kenaikan suku bunga BI sebenarnya merupakan satu-satunya instrumen yang tersisa, meski dengan trade-off yang belum membuahkan hasil kompetitif bagi sektor manufaktur. Pertanyaan yang lebih besar, menurut Budiawan, adalah siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab atas pelemahan kurs ini secara keseluruhan—dan apakah pengawasan DPR terhadap kinerja ekonomi struktural juga perlu dievaluasi.
Analis pasar menyarankan pelaku pasar tetap waspada dan bersikap wait and see sambil mulai mengakumulasi saham emiten berbasis ekspor yang fundamentalnya kuat serta rasio utang valas rendah. Bagi emiten importir, hedging mata uang harus menjadi prioritas utama. Investor ritel disarankan memilih perusahaan dengan arus kas operasional solid agar bisa melewati gejolak kurs ini dengan lebih tenang.
Related News
Proyek Konversi Angin jadi Listrik, Bangganya Menteri Rachmat Pambudy
2.639 Iklan PMSE Langgar Ketentuan, Ini Tindakan Tegas Kemendag
Laba Bersih DEFEND ID Melonjak 430 Persen, Dirut Ungkap Pemicunya
IIW Indonesia 2026 Hadirkan 1.800 Perusahaan Global, Catat Tanggalnya
Duh! Pengamat Sebut Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.000
Serangan Baru AS ke Iran Bikin Harga Minyak Kembali Melonjak





