EmitenNews.com - Bagi Indonesia, energi panas bumi bukanlah barang baru. Asal tahu saja. Umur geothermal di Tanah Air, ternyata sudah memasuki 100 tahun. Sumur panas bumi pertama dibor di Kamojang, Garut, Jawa Barat, pada 1926. Jadi, tahun ini berarti sudah seabad sejarah geothermal di Indonesia. Target realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari panas bumi tahun 2026 ini mencapai Rp2,6 triliun.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyebut, walau panas bumi ini sudah mencapai 100 tahun, namun uapnya pun hingga kini masih mengalir. Kontribusinya pun tetap ada untuk sumber energi bersih di Tanah Air.

"Hari ini memang tepat peringatan 100 tahun, tajak sumur pengeboran panas bumi dulu tahun 1926 mulai dicanangkan, mulai dibor di Kamojang. Setelah berusia 100 tahun, uapnya masih mengalir. Ini anugerah dari Tuhan yang Maha Esa. Kalau uap-uap itu tidak dimanfaatkan, kita tentu saja menjadi kaum yang merugi," ungkap Eniya Listiani Dewi pada pembukaan acara The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) di Jakarta International Convention Center, Rabu (19/8/2026).

Dirjen Eniya mengungkapkan, panas bumi sangat bisa bersaing dengan diesel. Sangat bisa bersaing dengan bahan bakar dari fosil, batu bara ataupun diesel. Karena dalam 24 jam bisa menghadirkan energi listrik.

"Salah satu energi terbarukan yang sangat kita andalkan, dan potensi terbesar ada di Indonesia, tadi juga disampaikan install kapasitas kita masih nomor 2 di dunia. Tetapi dengan adanya RUPTL PLN yang sudah disahkan, ini capaian kita, kita harapkan naik 5,2 GW, sehingga bauran energi baru terbarukan, porsinya bisa naik," ungkap Eniya di  hadapan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan para peserta IIGCE.

Saat ini bauran energi baru terbarukan sudah tercapai 17%. Bauran EBT pada Kuartal I-2026 sempat mencapai 18%, namun karena ada pembangkit lain non EBT yang baru beroperasi, maka bauran energi baru terbarukan turun menjadi 16,8-17%.

Dari porsi EBT tersebut, terbesar masih berasal dari bahan bakar nabati, seperti Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau biodiesel sebesar 5,2%. Lalu, diikuti air (PLTA) 3,5%, kemudian panas bumi (PLTP) 2,2%.

Satu hal, bila kapasitas PLTP bertambah 5,2 GW hingga 2034 sesuai RUPTL 2025-2034, maka porsi bauran panas bumi akan naik menjadi 4,5%.

Bauran Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) disebut masih 0,5%. Masih kecil, meski potensinya besar, sehingga perlu mendapat perhatian. Presiden sudah memerintahkan agar pengembangan PLTS, bisa menjadi kontributor untuk menaikkan energi baru terbarukan.

Menteri ESDM Terbitkan SK Untuk Dua Wilayah Kerja Panas Bumi