Sentimen Positif Putusan MA AS, Proyeksi IHSG Menguat Pekan Depan
Ilustrasi indeks harga saham gabungan menampilkan trend penguatan. Dok. Skorlife.
EmitenNews.com - Pembatalan kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump oleh Mahkamah Agung setempat akan menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia. Ekonom Keuangan dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak konsolidasi cenderung menguat pada perdagangan pekan depan.
Dalam keterangannya kepada pers, Minggu (22/2/2026), Hans Kwee mengungkapkan IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 8.170 sampai level 7.861, dan resistance di level 8.251 sampai level 8.596.
Malah dalam pandangan Hans, langkah Trump menetapkan tarif global sebesar 10 persen selama 150 hari juga akan menjadi sentimen positif, seiring tidak terlalu tingginya tarif tersebut. Langkah ini diambil setelah keluarnya putusan MA AS itu.
Terkait sentimen untuk pekan depan, Hans menyebut data produk domestik bruto (PDB) AS yang melemah, namun inflasi PCE AS masih tinggi, menyebabkan probabilitas pemotongan suku bunga oleh bank sentral AS The Fed menurun.
Data PDB AS melemah tetapi inflasi PCE tetap masih tinggi, membuat probabilitas The Fed melakukan pemotongan bunga di Juni 2026 menurun, tetapi pelaku pasar tetap mengharapkan dua kali pemotongan bunga di tahun ini.
Data PDB riil AS tercatat hanya tumbuh 1,4 persen pada kuartal IV-2025, sedangkan secara tahunan tumbuh 2,2 persen pada 2025.
Kemudian inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat tinggi di level 3 persen pada Desember 2025, atau melampaui ekspektasi pasar.
Kekhawatiran pelaku pasar global masih akan seputar saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI), yang membuat volatilitas pasar tinggi.
Hans juga menilai obligasi pasar berkembang (emerging market) berada di level sangat menarik secara historis, dan berpotensi memasuki periode kinerja yang sangat kuat. Hal itu bakal menjadi sentimen positif bagi negara berkembang termasuk Indonesia.
Untuk harga minyak global sangat dipengaruhi oleh potensi konflik antara AS dan Iran, serta pembicaraan pasokan oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC +). Volatilitas minyak dinilai masih tinggi akibat ketidakpastian potensi serangan AS ke Iran.
Sementara itu dari dalam negeri, Hans menilai langkah proaktif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) sebagai tindak lanjut ultimatum MSCI Inc, cukup untuk menghindari ancaman reklasifikasi struktural yakni downgrade dari emerging market menjadi frontier market.
Lalu, langkah proaktif otoritas tersebut didukung oleh kebijakan moneter, yaitu Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada pertemuan Februari 2026, atau sesuai ekspektasi pelaku pasar.
Seperti apa perkembangannya kelak, baiklah kita tunggu sampai pekan depan. ***
Related News
Nasabah Kehilangan Saldo Tabungan, Bank Jambi Siap Ganti Semua
Bersinar di ITAY 2026, JakPro Raih Dua Penghargaan Nasional
Ini Kata Menteri Bahlil Soal Peluang Impor Etanol Termasuk dari AS
Perluas Akses Produk Industri Nasional, Kadin dan US-ABC Teken MoA
Komitmen Kerja Sama RI-AS Pengaruhi Penguatan Rupiah Jadi Rp16.888
Ingat Ya! Pemudik Lebaran 2026 Bisa Gunakan Tol Fungsional Bocimi





