Serangan AS–Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Awal Pekan
Ilustrasi tren kenaikan harga (uptrend).
EmitenNews.com - Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) diperkirakan memicu gejolak harga minyak global pada awal pekan.
Pasar menilai eskalasi di kawasan Teluk berisiko mengganggu distribusi energi dunia, terutama jika Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak mentah.
Florian Weidinger, CIO di Santa Lucia Asset Management, dikutip dari CNBC, Minggu (1/3/2026) mengatakan, "Ini jelas memiliki dampak yang lebih besar daripada Venezuela.”
Senada analis lain yakni, Amro Zakaria, global financial markets strategist and founding partner dari Kyoto Network and Madarik Ventures dikutip thenationalnews mengatakan, “Segala gangguan terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah dapat menyebabkan lonjakan harga minyak yang tajam saat pasar buka.”
Menurut data perusahaan intelijen pasar Kpler, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz pada 2025, atau sekitar 31 persen dari aliran minyak global melalui laut.
Kenneth Goh, Private Wealth Management Director di UOB Kay Hian Singapura, menyebut perbedaan utama krisis ini dibandingkan Venezuela terletak pada risiko jalur distribusi. "Venezuela adalah kisah produksi. (Iran) adalah kisah tentang titik hambatan," ujar Goh.
Ia menilai pola pergerakan pasar kemungkinan mengacu pada Juni 2025, saat Israel menyerang situs nuklir Iran dan saham sempat anjlok sebelum pulih setelah Selat Hormuz dipastikan tidak terganggu. "Itulah pola yang akan dirujuk pasar pada hari Senin," kata Goh.
Sementara itu, Alicia García-Herrero, kepala ekonom Asia-Pasifik di Natixis, memperkirakan pembukaan pasar Senin (2/3) akan diwarnai tekanan pada aset berisiko. Ia memprediksi ekuitas global berpotensi turun 1 persen hingga 2 persen atau lebih, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun 5 hingga 10 basis poin, dan harga minyak melonjak 5 persen hingga 10 persen.
"Jangan bertaruh pada hal yang berisiko," kata Garcia, seraya mengingatkan investor untuk menunggu respons Iran.
Related News
Maret 2026, HR CPO Melejit Menjadi USD938,87 per MT
Jaga Harga Telur dan Ayam, SPHP Jagung Pakan Digelontor 3 Kali Lipat
Ketahanan Perbankan Terjaga, Ruang Penyaluran Kredit Masih Terbuka
Penguatan Ekonomi Biru Indonesia, Agenda Strategis Nasional
Realisasi Modal Rp33,7T, Kawasan Rebana Primadona Baru Investasi Jabar
Janji KKP, Kemudahan Akses Pupuk Bersubsidi Bagi Pembudidaya Ikan





