Setahun Perdagangan Bursa Karbon, Pebisnis Masih Lihat ESG Jadi Beban
:
0
Ilustrasi Bursa Karbon. dok. Context.id.
EmitenNews.com - Perusahaan masih memandang bursa karbon yang masuk dalam tata kelola lingkungan, sosial, perusahaan (ESG) menjadi beban. Mestinya para pelaku usaha, atau pebisnis, melihat bursa karbon sebagai bagian integral dari strategi bisnis. Perdagangan bursa karbon telah berlangsung sejak diresmikan pada 26 September 2023.
Dalam webinar nasional ISEI yang berlangsung secara virtual, Senin (30/9/2024), Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, perusahaan harus menjadikan faktor bursa karbon sebagai peluang, dan bagian dari strategi bisnis untuk memenangkan pasar.
Pasalnya, pemerintah, konsumen, serta investor telah memperhatikan faktor ESG sebagai salah satu aspek penting yang perlu diterapkan oleh perusahaan.
"Faktor ESG dilihat dari perspektif yang agak berbeda dengan para pemerhati lingkungan, misalnya. Para pelaku bisnis masih melihat ESG ini dari perspektif compliance dan biaya," ujar Jeffrey Hendrik.
Perusahaan perlu melihat hal ini sebagai bagian integral dari strategi bisnis. Karena, pemerintah, konsumen, serta investor telah memperhatikan faktor ESG sebagai salah satu aspek penting yang perlu diterapkan oleh perusahaan.
Jeffrey Hendrik mengungkapkan, dengan perkembangan global, ada tiga pihak yang memberikan pressure cukup besar, yaitu pihak pemerintah, konsumen, dan kalangan investor, Ketiganya memberikan tekanan cukup besar terhadap faktor lingkungan dan keberlanjutan.
Jeffrey mencontohkan, aspek ESG yang diterapkan oleh perusahaan teknologi Apple mendapat sambutan positif dari para investornya. Dalam beberapa tahun lalu, Apple mendeklar target net zero mereka, tahun 2025,.
“Sejak itu harga sahamnya terus naik. Artinya ini menunjukkan apresiasi dari para investor terhadap perusahaan-perusahaan yang memberikan perhatian kepada lingkungan dan keberlanjutan," jelasnya.
Bahkan, dalam berbagai diskusi dengan investor global, saat ini faktor ESG menjadi sangat penting, bahkan kadang-kadang melebihi faktor kinerja finansial. Ada triliunan dolar dana global yang hanya akan diinvestasikan di instrumen-instrumen yang memperhatikan faktor ESG.
"Belum lagi, customer yang sudah semakin aware terhadap ESG, dan tentunya pemerintah," ucapnya.
Related News
Investor Tunggu Fed, Harga Emas Asia Fluktuatif, Antam Turun Rp30.000
Bank Dunia Proyeksikan Harga Energi Bakal Melonjak 24 Persen Tahun Ini
Harga Minyak Disentil UEA Keluar dari OPEC
UEA Tinggalkan OPEC Mulai 1 Mei, Apa Dampaknya?
RUPST BJB Angkat Ratu Laut Kidul Jadi Komut, Mari Kenali Sosoknya
Kecelakaan KA, Danantara Siap Evaluasi Keamanan Tidak Hanya Kereta Api





