Sinyal Diplomasi AS-Iran Tahan Harga Minyak di USD100
:
0
Harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan tren stabilisasi setelah sempat mengalami penurunan selama tiga sesi berturut-turut. (Foto: Dok)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan tren stabilisasi setelah sempat mengalami penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Perkembangan ini terjadi seiring menguatnya harapan pasar terhadap berbagai upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah saat ini stabil di sekitar USD100 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent tercatat bertahan di bawah level USD104 per barel pada perdagangan hari Senin.
Menurut data dari Trading Economics, pergerakan harga komoditas energi tersebut dipengaruhi oleh dinamika politik global, khususnya rencana pertemuan para pemimpin dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keterbukaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Selain peluang dialog dengan Iran, Trump juga dijadwalkan melangsungkan pertemuan dengan sejumlah pemimpin Teluk Persia serta menggelar pertemuan puncak dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Langkah diplomasi regional turut didorong oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani. Ia mendesak negara-negara Teluk untuk bekerja sama dalam memulihkan stabilitas kawasan. "Pesan-pesan sedang dipertukarkan antara AS dan Iran," kata Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani dalam keterangannya.
Dari sisi jalur pasokan, keamanan distribusi energi mulai memperlihatkan perbaikan. Kepala Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper mengonfirmasi bahwa aktivitas pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz selama dua minggu terakhir telah mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Bagi Indonesia, tren stabilisasi harga minyak dunia di kisaran USD100 per barel tetap memerlukan kewaspadaan. Sebagai negara net importir minyak (net oil importer), pergerakan harga minyak mentah internasional berdampak langsung pada beban subsidi energi dalam APBN serta memicu penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di dalam negeri. Stabilnya pasokan di Selat Hormuz diharapkan dapat menekan risiko gejolak inflasi domestik.(*)
Related News
Ancaman Intervensi BOJ Bayangi Penguatan Yen
Pertemuan Trump-Xi Jinping Bayangi Saham AS
Kolaborasi Pertamina-Eni, Perkuat Eksplorasi Migas Berbasis Teknologi
Restitusi Pajak Capai Rp191,82T, DJP Ungkap Terbesar Pajak Penghasilan
Menkeu Baru Ungkap, Belanja Negara Rp1.791 Triliun, Naik 29 Persen
Peluang di CAEXPO 2026: Lompatan Ekspor Hilirisasi Hingga Transfer AI





