EmitenNews.com—Kendati di Semester I-2022 jumlah permintaan semen secara nasional bertumbuh 1,2 persen, namun PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) mengaku bahwa demand semen di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mengalami penurunan hingga 2,3 persen.


Berdasarkan keterangan resmi SMBR yang dikutip Jumat (9/9), permintaan semen secara nasional di Semester I-2022 mencapai 29,36 juta ton atau bertumbuh 1,2 persen (year-on-year). "Peningkatan demand semen itu belum sejalan dengan demand di wilayah Sumbagsel sebagai wilayah pasar utama SMBR yang justru turun 2,3 persen," sebut manajemen SMBR.


Bahkan, penurunan demand semen di pasar utama SMBR menjadi 2,73 juta ton tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan permintaan semen di Sumatera pada Semester I-2022 yang hanya menurun 1,6 persen (y-o-y) menjadi 6,25 juta ton. Penurunan demand semen di Sumbagsel, terutama dikontribusi oleh penurunan permintaan di Lampung, Jambi dan Bangka.


SMBR menyampaikan, konsumsi semen bag (kantong) di Semester I-2022 mengalami penurunan sebesar 4,3 persen, sementara semen bulk (curah) mengalami kenaikan 13,7 persen (y-o-y). Porsi konsumsi semen bulk di Semester I-2022 meningkat 2 persen dibanding semen bag, karena didorong oleh sejumlah pembangunan proyek infrastruktur yang mulai berjalan.


Manajemen SMBR menyebutkan, saat ini industri semen nasional menghadapi sejumlah tantangan, terutama oversupply semen yang berkelanjutan. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri dan rencana penerapan kebijakan Zero ODOL pada 2023.


Tantangan lainnya, dampak dari tren kenaikan harga batubara dan minyak dunia yang diikuti keterbatasan stok batubara, serta kebijakan pengurangan subsidi BBM. "Sebagai langkah mengantisipasi rencana pemerintah untuk menerapkan pajak karbon di 2025, SMBR menggunakan bahan bakar alternatif dan material substitusi, serta menurunkan faktor terak," kata manajemen SMBR.