EmitenNews.com - Harga emas dunia bertahan di kisaran USD4.400 per ons pada perdagangan Senin (7/9/2026) setelah terkoreksi sekitar 1% pada sesi sebelumnya. Tekanan terhadap logam mulia ini terdorong oleh menguatnya spekulasi potensi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Pada saat yang sama, harga perak internasional juga diperdagangkan mendekati level USD66 per ons. Tekanan pasar modal ini menyusul rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang berada jauh di atas ekspektasi pasar.

Dinamika harga emas internasional serta arah kebijakan moneter AS ini menjadi perhatian bagi pelaku pasar keuangan di Indonesia. Pasalnya pergerakan suku bunga acuan global berpotensi memengaruhi laju nilai tukar rupiah, instrumen investasi berbasis emas domestik, hingga pergerakan harga komoditas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Trading Economics melaporkan, data ketenagakerjaan non-farm payrolls AS melonjak sebanyak 162.000 pekerjaan pada Agustus 2026. Angka tersebut melampaui proyeksi konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan 56.000 pekerjaan, serta melanjutkan tren positif usai revisi kenaikan sebesar 23.000 pekerjaan pada Juli.

Sementara itu, tingkat pengangguran AS tercatat stabil di angka 4,1%. Pertumbuhan upah tahunan melambat menjadi 3,1%, meskipun tingkat penurunan tersebut lebih kecil ketimbang estimasi para ekonom.

Laporan data ekonomi tersebut menguatkan ekspektasi pasar atas kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan September menjadi sekitar 60%, naik dari posisi 50% sebelum rilis data ketenagakerjaan.

Pergerakan harga komoditas logam mulia ini turut tertahan oleh lonjakan harga minyak mentah global akibat aksi saling serang antara militer AS dan Iran di kawasan perairan Timur Tengah pada akhir pekan. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran meluasnya tekanan inflasi global.(*)