EmitenNews.com - Bank Indonesia datang dengan tujuh strategi dalam upaya memperkuat nilai tukar rupiah, yang sempat menyentuh Rp17.499. Bagusnya, Presiden Prabowo Subianto merestui tujuh strategi BI untuk memperkuat nilai tukar mata uang rupiah terutama setelah rupiah melemah (undervalue).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengemukakan hal tersebut dalam jumpa pers selepas rapat terbatas Presiden Prabowo bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026) malam.

"Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Strategi pertama, Bank Indonesia terus memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik dalam negeri maupun di luar negeri untuk menjaga nilai tukar rupiah kembali stabil. Perry menyampaikan, cadangan devisa BI lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Kedua, BI difokuskan kepada penguatan arus modal dan koordinasi fiskal-moneter. BI mengupayakan aliran modal masuk ke dalam negeri lewat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow (aliran masuk) sehingga inflow-nya SRBI bisa mencukupi aliran keluarnya (outflow) SBN (surat berharga negara) dan saham. Kami berkoordinasi dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih dari awal tahun hingga saat ini (year-to-date) masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah," kata Perry.

Strategi ketiga, Bank Indonesia akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membeli SBN dari pasar sekunder. BI sudah membeli SBN dari pasar sekunder year-to-date adalah Rp123,1 triliun.

“Kami berkoordinasi, termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa beli kembali (buyback) dan segala macam. Koordinasi erat antara fiskal dan moneter," ujar Gubernur BI.

Strategi keempat, Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar.

Strategi kelima, Bank Indonesia juga memberlakukan pembatasan pembelian mata uang dolar AS di pasar domestik. BI bersama Menteri Keuangan menjaga likuiditas di perbankan dan pasar uang lebih dari cukup, yaitu terindikasi dari pertumbuhan uang primer yang selalu double digit uang primernya adalah 14,1 persen.