EmitenNews.com - Ada bahaya dari melimpahnya stok beras di gudang Bulog yang kini mencapai 5,3 juta ton. Penumpukan beras tanpa manajemen stok yang baik berisiko menimbulkan kerusakan komoditas, kerugian negara, hingga manipulasi data stok di sejumlah cabang Bulog di Tanah Air.

Demikian sorotan anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo kepada pers, di Jakarta, seperti dikutip Jumat (15/5/2026).

Beras merupakan komoditas hidup yang memiliki batas waktu penyimpanan ideal. Jika disimpan terlalu lama, terutama lebih dari enam hingga sembilan bulan tanpa pengendalian suhu dan kelembaban yang baik, kualitas beras akan menurun.

Kelembaban tinggi dapat memicu munculnya kutu beras dan jamur yang menyebabkan beras tidak layak konsumsi. Selain itu, beras juga mengalami penyusutan bobot akibat penguapan dan pecah butir selama penyimpanan.

Di luar itu, biaya penyimpanan yang besar, seperti fumigasi, listrik gudang, dan tenaga kerja juga akan menambah beban keuangan Bulog. Karena itu, standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menetapkan stok buffer pangan idealnya diputar setiap enam hingga sembilan bulan.

Firman menilai penahanan stok beras dalam jumlah besar justru dapat memicu kenaikan harga di pasar. Ketika stok beras tersimpan di gudang namun tidak segera dilepas ke pasar, pedagang membaca kondisi tersebut sebagai sinyal keterbatasan pasokan.

“Kalau stok ditahan terlalu lama, pasar menganggap suplai terbatas. Akibatnya harga bisa naik,” kata politikus Partai Golkar yang dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia itu.

Meningkatnya kebutuhan beras untuk program pemerintah dan pasar umum secara bersamaan juga berpotensi mempersempit pasokan di masyarakat. Kondisi itu diperparah jika beras yang dilepas ke pasar kualitasnya sudah menurun sehingga konsumen beralih ke beras premium dengan harga lebih tinggi.

Bahaya Bila Stok Beras Mengalami Kerusakan dan Penyusutan

Selain risiko pasar, Firman menegaskan Bulog juga menghadapi ancaman kerugian besar apabila stok mengalami kerusakan atau penyusutan. Kerugian muncul dari selisih harga jual dengan biaya penyimpanan hingga potensi pemusnahan beras yang rusak akibat jamur.