Survei LPEM UI, Harga Lebih Terjangkau Mobil Bekas Jadi Pilihan
Ilustrasi bursa mobil bekas. Dok. Merdeka.
EmitenNews.com - Di tengah tekanan daya beli terjadi perubahan perilaku konsumen di pasar otomotif nasional. Keterbatasan ekonomi mendorong konsumen menunda pembelian mobil baru dan beralih ke mobil bekas sebagai pilihan yang lebih rasional.
Demikian hasil Survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) seperti dikutip Sabtu (10/1/2026).
Dari 767 responden pemilik mobil bekas yang disurvei, 42 persen memilih mobil bekas karena faktor harga yang lebih terjangkau, disusul pajak yang lebih ringan sebesar 23 persen dan depresiasi yang lebih rendah sebesar 10 persen.
Temuan ini memperlihatkan bahwa pilihan terhadap mobil bekas bukan semata soal selera, melainkan respons terhadap jarak yang kian melebar antara harga kendaraan baru dan kemampuan finansial masyarakat.
Dalam Media Workshop di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026), Peneliti Senior LPEM FEB UI, Riyanto, menjelaskan bahwa menguatnya pasar mobil bekas tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi makro dan tekanan pada kelompok menengah. Diakui ini persoalan daya beli, di tengah harga mobil yang memang lebih tinggi daripada pendapatan masyarakat secara umum.
Pertumbuhan ekonomi yang bertahan pada kisaran 5 persen membuat peningkatan pendapatan per kapita tidak lagi sekuat satu dekade sebelumnya. Situasi ini paling dirasakan oleh kelompok menengah yang selama ini menjadi basis utama pembelian mobil. Riyanto menyebutkan, kelompok menengah kita turun. Pada 2019 itu sekitar 57 juta, di 2024 turun 9 juta-10 juta menjadi sekitar 47 juta.
Yang terjadi kemudian, penyusutan tersebut berdampak langsung pada pola konsumsi. Siklus penggantian mobil yang sebelumnya relatif cepat, sekitar tiga hingga lima tahun, kini cenderung memanjang. Sebagian konsumen memilih menunda pembelian mobil baru, sedangkan lainnya beralih ke pasar mobil bekas.
“Ada juga kelompok yang sebenarnya bisa membeli, tapi tertunda, atau bergeser membeli mobil bekas,” ujarnya.
Bisa dipastikan, pasar mobil baru melemah, sedangkan pasar mobil bekas justru tumbuh. Riyanto mencatat, jika dibandingkan dengan puncak penjualan mobil baru pada 2013, volumenya telah turun sekitar 30 persen. Namun, penurunan itu tidak sepenuhnya mencerminkan penyusutan kebutuhan, melainkan pergeseran ke pasar mobil bekas.
“Sebenarnya market tumbuh kalau dilihat market dengan mobil bekas juga. Ini kelompok-kelompok yang tidak menikmati kue ekonomi dalam lima tahun terakhir,” kata Riyanto lagi.
Peran mobil bekas sebagai alternatif juga tercermin dari analisis elastisitas harga. Survei menunjukkan, kenaikan harga mobil bekas sebesar 1 persen berkorelasi positif dengan peningkatan penjualan mobil baru pada hampir seluruh segmen, meski dengan tingkat sensitivitas berbeda-beda.
Artinya, ketika harga mobil bekas meningkat, sebagian konsumen mulai kembali mempertimbangkan mobil baru. Namun, efeknya relatif terbatas. Hanya sekitar 15 persen pembeli mobil bekas yang menyatakan bersedia beralih ke mobil baru jika harga mobil bekas naik 10 persen.
Sebaliknya, penurunan harga mobil baru memiliki daya dorong yang lebih besar. Sekitar 27 persen pembeli mobil bekas menyatakan minat beralih ke mobil baru jika harga mobil baru turun 10 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik mobil bekas saat ini sangat ditentukan oleh selisih harga yang masih cukup lebar.
Survei yang sama juga mencatat, mayoritas calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan bukanlah pembeli pertama. Dari 1.511 responden yang berminat membeli mobil, 87 persen sudah memiliki kendaraan, dan sekitar 60 persen di antaranya merupakan pemilik mobil bekas.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pasar otomotif saat ini lebih banyak digerakkan oleh kebutuhan mengganti kendaraan lama dibandingkan menambah unit baru. Dalam konteks ini, mobil bekas menjadi opsi paling realistis bagi banyak konsumen. Meski demikian, peluang pergeseran ke mobil baru tetap terbuka.
Lihatlah. Sekitar 29 persen pemilik mobil bekas menyatakan berencana membeli mobil baru dalam lima tahun ke depan, terutama untuk memperoleh kondisi kendaraan yang lebih terjamin serta teknologi dan fitur terkini.
Related News
Reli Emas 2025 Fantastis, Begini Prospeknya Tahun Ini
Pemerintah Pangkas Produksi Batu Bara, APBI Ingatkan Soal Tenaga Kerja
Bos Danantara Pastikan Ada Tambahan Saham Warga Asli Papua di Freeport
Sekuritas Valas BI Hadir Kembali, Kali Ini Bernilai Rp1,61 Triliun
Pertama Kali Dalam 9 Tahun, Lifting Minyak Lewati Target APBN
Pemerintah Akan Revisi RKAB Untuk Perbaiki Harga Pasar Batu Bara





