EmitenNews.com - Aksi penggalangan dana dari pasar modal diperkirakan masih cukup menarik bagi sebagian pelaku bisnis. Pilihannya antara lain penawaran umum perdana saham (IPO) maupun penerbitan obligasi.

Itu diungkapkan oleh VP Equity Research PT BNI Sekuritas Yulinda Hartanto. Dalam keterangan tertulis dikutip Minggu (4/1), Yulinda mengungkapkan, dari dua cara penghimpunan dana di pasar modal itu, obligasi akan jadi pilihan Utama.

Menurut Yulinda, obligasi menjadi instrumen pendanaan paling menarik seiring turunnya yield SUN 10Y yang diproyeksikan menuju ±5,8% pada akhir 2026. "Likuiditas domestik yang kuat membuat pasar obligasi relatif tahan terhadap volatilitas arus asing," kata Yulinda.

Sementara IPO, Yulinda menyebut, sifatnya tetap selektif dengan fokus pada emiten berkualitas dan valuasi rasional.

Namun pelaku bisnis juga punya alternatif lain dalam menghimpun dana. Di luar pasar modal, perbankan menjadi pilihan.

Yulinda bilang, pinjaman bank kembali kompetitif seiring penurunan cost of fund dan pelonggaran makroprudensial Bank Indonesia.

Seperti diketahui, penghimpunan dana di pasar modal hingga 31 Desember 2025 tercatat 215 Penawaran Umum dengan total nilai Rp275 triliun. Jumlah itu termasuk 18 emiten baru dengan nilai IPO Rp14,41 triliun.

Sementara, kinerja intermediasi perbankan meningkat dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas di level yang memadai. Hingga Oktober 2025, kredit tumbuh 7,36% yoy (Sep-25: 7,70%) menjadi sebesar Rp8.220,21 triliun.

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 15,72%, diikuti oleh Kredit Konsumsi tumbuh 7,03%, sementara Kredit Modal Kerja tumbuh 2,39% yoy. Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 11,02%, sementara kredit UMKM terkontraksi 0,11% yoy. (*)