Tantangan IHSG Hingga Akhir Tahun 2026
:
0
Potret Main Hall BEI. Foto: Emiten News
EmitenNews.com - Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata pergerakan IHSG hingga akhir tahun masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berasal dari kondisi domestik yang dinilai menimbulkan paradoks.
Sebagaimana diketahui, data pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I-2026, Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan ASEAN. Akan tetapi, data tersebut tidak tercermin dari kinerja pasar saham yang justru sempat mengalami tekanan cukup dalam.
Meski dua hari pertama Juli IHSG mengalami penguatan, secara year to date indeks telah terkoreksi sekitar 39,1 persen yang diikuti net foreign sell mencapai Rp86,81 triliun per 29 Juni 2026. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah pun sempat menyentuh posisi terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp18.190 per dolar AS
Kiwoom juga menilai perhatian pasar kini tertuju pada hasil evaluasi MSCI yang dijadwalkan berlangsung November 2026 mendatang. Meski Indonesia saat ini masih dipertahankan di klasifikasi Emerging Market, MSCI menantikan langkah nyata implementasi dari reformasi pasar modal yang telah digulirkan OJK dan SRO.
Di saat yang sama, arus investasi global kini tengah bergeser ke sektor teknologi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Sayangnya, struktur pasar modal Indonesia dinilai masih didominasi sektor-sektor ‘dunia lama’ seperti perbankan, komoditas, dan konsumer, sehingga belum banyak menikmati limpahan dana dari tren AI global.
Sebaliknya, Vietnam diniliai berhasil memanfaatkan momentum tersebut. Bahkan, Vietnam dijadwalkan naik kelas ke Secondary Emergin Market versi FTSE Russell pada September 2026, dengan potensi aliran dasa asing mencapai sekitar USD25 miliar.
“Vietnam sedang membangun kredibiltas reformasi dan kedalaman adopsi AI yang mendatangkan peningkatan indeks dan modal asing baru, sementara bobot MSCI Indonesi kian terkikis,” ungkap Liza.
Kendati demikian, di tengah berbagai tantangan tersebut, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi justru menilai valuasi saham-saham di BEI sudah masuk zona deep value, khususnya saham dengan kapitalisasi jumbo. Menurutnya, hal itu telah masuk kategori di bawah rata-rata historis.
”Big caps dengan fundamental solid kena indiscriminate selling bersama nama (saham emiten) bermasalah. Hal ini bikin margin of saftey menarik untuk investor jangka panjang, meski timing pemulihannya belum pasti,” ungkap Wafi.
Di samping itu, Wafi menilai sejumlah sektor diproyeksikan menjadi penopang IHSG seperti perbankan, energi atau komoditas, konsumer, dan telekomunikasi.
Related News
IHSG Terus Melaju, Borong Saham ANTM, BBCA, ARCI, dan BMRI
Perdagangan Jumat (3/7), IHSG Masih Konsolidasi di Area Ini
IHSG Berpeluang Lanjut Menguat
Foreign Inflow Belum Konsisten, Begini Proyeksi IHSG Hari Ini
IHSG Kamis (2/7) Melambung 0,87 Persen, Ditopang Big Banks dan TPIA
Ijo Royo-Royo, Seluruh Sektor Tarik IHSG Dekati Level 5.800





