Tekanan Impor Masih Berat, Lion Metal Fokus Jaga Margin dan Efisiensi
:
0
PT Lion Metal Works Tbk (LION)
EmitenNews.com - PT Lion Metal Works Tbk (LION) masih berada dalam fase konsolidasi bisnis di tengah tekanan industri manufaktur yang kian kompetitif. Manajemen mengakui kinerja Perseroan dalam beberapa periode terakhir tertekan oleh penurunan penjualan, ketatnya persaingan dengan produk impor dari Tiongkok, serta fluktuasi harga bahan baku baja yang belum stabil.
Dalam laporan hasil paparan public yang disampaikan Senin, (16/2/2026), Direktur LION Lawer Supendi menjelaskan, pada 2024 Perseroan sempat mencatat kinerja yang lebih baik berkat adanya pesanan produk cable ladder.
Namun, kontribusi segmen tersebut menurun kembali sepanjang 2025 seiring melemahnya permintaan. Kondisi ini membuat Perseroan lebih berhati-hati dalam mengelola volume produksi dan strategi penjualan.
Meski demikian, manajemen menegaskan kondisi likuiditas dan arus kas Perseroan tetap terjaga. Penurunan total aset secara tahunan lebih disebabkan oleh berkurangnya liabilitas serta pembayaran dividen, bukan karena tekanan kas. “Kami tidak memiliki masalah likuiditas maupun cash flow,” tegas manajemen.
Untuk memperkuat struktur bisnis, LION juga terus mengupayakan penjualan lahan industri melalui entitas anak PT Singa Purwakarta Jaya. Lahan seluas sekitar 100 hektare di kawasan industri Lion, Purwakarta, ditawarkan mengikuti harga pasar dengan mempertimbangkan kebutuhan pengembangan infrastruktur kawasan. Dana hasil penjualan aset tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung keberlanjutan usaha.
Memasuki 2026, LION menyiapkan sejumlah strategi untuk mengerek kinerja. Fokus diarahkan pada optimalisasi Divisi Cable Ladder, Fire Door, dan Racking melalui penerapan sistem produksi 2-way dan 4-way guna meningkatkan efisiensi biaya. Perseroan juga mulai mengadopsi teknologi automatic racking melalui kerja sama dengan mitra dari Tiongkok.
Manajemen menargetkan pendapatan sekitar Rp468 miliar pada 2026 dengan laba bersih diproyeksikan mencapai Rp20,8 miliar. Namun, pencapaian target tersebut tetap bergantung pada dinamika ekonomi global dan kondisi pasar domestik.
Dari sisi belanja modal, Perseroan mengalokasikan capex sebesar Rp2–5 miliar pada tahun ini. Dana tersebut difokuskan untuk digitalisasi lini produksi, termasuk pembelian mesin laser cutting dan pengelasan robotik otomatis, sebagai langkah menekan biaya tenaga kerja jangka panjang sekaligus meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi.
Related News
SMAR Raup Laba Rp2,34 Triliun, Saham Meledak 23 Persen
Bank BJB (BJBR) Bukukan Laba Bersih Rp783 Miliar, Tumbuh 58 Persen
Aset Tembus USD346 Juta, Investor HUMI raih Dividen Rp3 Miliar
Bank Permata (BNLI) Raih DPK Rp189 Triliun, Ada Penurunan 1,9 Persen
Bersama Danantara, BTN Penyalur Terbesar Akad Massal Rumah Subsidi
Prihatin! Rugi AirAsia Indonesia jadi Rp1,45T, Melonjak 85,95 Persen





