EmitenNews.com — Tahun ini IICD kembali memberikan penghargaan kepada emiten-emiten yang telah mengimplementasikan praktek-praktek tata kelola perusahaan yang baik (GCG) pada tahun sebelumnya dan tidak terkait kasus serius yang bertentangan dengan prinsip-prinsip GCG pada acara “The 13th IICD Corporate Governance Awards”.


Pemberian apresiasi kepada para emiten dengan praktek CG terbaik (BigCap & MidCap) dibagi menjadi 10 kategori, yaitu: Best CG Overall, Best Financial Sector, Best Non-Financial Sector, Best SOE/BUMN, Best Right of Shareholders, Best Equitable Treatment of Shareholders, Best Role of Stakeholders, Best Disclosure & Transparency, Best Responsibility of the Boards, Most Improved, yang diumumkan pada puncak acara awards Jum’at, 27 Mei di Ball Room Financial Hall, 2nd Floor, Jakarta.


Penilaian dilakukan kepada 200 emiten dengan market kapitalisasi terbesar dan menengah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dimana dalam melakukan penilaian kami membagi menjadi 2 kelompok, yaitu 100 emiten dengan market kapitalisasi terbesar (Big Cap) dan 100 emiten dengan market kapitalisasi menengah (MidCap), yang didukung oleh 10 asesor. Adapun penggunaan metode penilaian berdasarkan Asean CG Scorecard. Hasil penilaian terhadap 200 emiten ini dipaparkan oleh Dr. James Simanjuntak setelah pembukaan “The 13th IICD Corporate Governance Awards” hari ini. 


Sigit Pramono, Chairman IICD dan IIPG menyampaikan sambutan saat acara IICD CG Awards. “Puncaknya pada hari ini, kami akan mengumumkan dan memberikan penghargaan kepada 50 emiten BigCap dan 50 emiten MidCap yang sebelumnya akan di umumkan Top 50 perusahaan dengan praktek tata kelola yang baik untuk kedua kelompok tersebut”, jelasnya. 


Dalam acara IICD CG Awards yang diselenggarakan secara offline tersebut, turut hadir Prof. Dr. Boediono yang menyampaikan closing remarks sebelum dibacakannya pengumuman di setiap kategori baik diBigCap maupun MidCap.


Disisi lain, IICD juga menyinggung bahwa regulator pasar modal perlu memperhatikan praktik tata kelola terbaik pada perusahaan tercatat atau emiten di Indonesia.


Pasalnya, dari temuan Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD), didapat skor penerapan tata kelola perusahaan pada 100 emiten dengan kapitalisasi terbesar Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2017 hingga 2021, jalan di tempat.


Seperti disampaikan Anggota Dewan Pembina IICD, James Simanjuntak dalam ‘acara bertajuk; The 13th IICD Corprate Governance Award 2022’ di Jakarta, Jumat (27/5/2022).


“Skor rata-rata dari 100 emiten kapitalisasi besar meningkat hingga 75,57 persen dalam periode 2012 hingga 2017. Tapi di periode 2017 hingga 2022, justru stagnan diangka 76,67 persen.” ungkap dia.


Bahkan jika dibandingkan dengan negara lima besar ASEAN, lanjut dia, Indonesia bisa dikatakan terbelakang.


“Tahun 2014 - 2017 ada 2 hingga 4 emiten kita yang masuk 50 besar Asean Scorecard (standar penerapan tata kelola perusahaan berdasarkan prinsip-prinsip corporate governance yang dikeluarkan oleh the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tapi di tahun 2019, malah tidak ada emiten yang masuk 20 besar,” ungkap dia lagi.


Ia melanjutkan, contoh penerapan tata kelola perusahaan terbaik yang kurang seperti keterbukaan pada laporan tahunan emiten.


“Misalnya, soal remunerasi jangka panjang ditangguhkan terhadap direksi, tidak diungkapkan bagaimana cara penetapannya. Kita ingin emiten lebih berani mengungkapkannya, berapa sih gaji CEO,” ungkap dia.


Selain itu, kata dia, ditemukan juga banyak perusahaan yang enggan mengungkapkan remunerasi komisaris.


Sementara itu, Ketua Umum IICD, Sigit Pramono menjelaskan, bahwa pelaksanaan tata kelola perusahan terbaik menjadi kebutuhan bagi setiap perusahaan. “Walau CGC itu seperti hal gaib, apakah perlu pelaksanaan GCG? Sehingga kami dari IICD perlu menyemangati pelaksanaan GCG,” kata dia.


Lebih lanjut ia mengingatkan, penerapan GCG akan terasa penting dalam masa krisis. Sebab perusahaan-perusahaan yang menerapkan tata kelola perusahan terbaik akan bertahan. “Dari krisis tahun 1997 - 1998 kita belajar menerapkan GCG,” kata dia.


Dia berharap, di tahun 2022 ini, terdapat emiten yang dapat mencapai skor 90 atau bisa masuk level 4 dalam penerapan GCG. “Kalau tahun 2021, nilai terbaik yang diperoleh emiten  baru mencapai 89 persen,” kata dia.