TINS Tabulasi Laba Rp1,5 Triliun, Melesat 1.183 Persen Kuartal I 2026
:
0
Tampak kesibukan di bagian dalam pabrik perseroan. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - PT Timah (TINS) sepanjang kuartal I 2026 mentabulasi laba bersih Rp1,5 triliun. Melesat 1.183 persen dari episode sama tahun lalu senilai Rp116,85 miliar. Raihan laba bersih itu, berarti 595 persen dari target yang sudah ditentukan perseroan yaitu Rp252 miliar.
Perseroan membukukan pendapatan Rp5,47 triliun meningkat 160,50 persen dari periode sama tahun lalu Rp2,10 triliun. Itu seiring dengan kenaikan volume penjualan, dan harga jual rata-rata logam timah. Laba usaha Rp1,88 triliun lebih tinggi dari kuartal I 2025 sebesar Rp0,15 triliun.
Lalu, pencapaian EBITDA terakumulasi Rp2,1 triliun atau lebih tinggi 450,84 persen dari kuartal I 2025 sebesar Rp0,38 triliun. Nilai aset perseroan melesat 11,62 persen menjadi Rp15,23 triliun dari akhir 2025 sejumlah Rp13,64 triliun. Liabilitas sebesar Rp5,27 triliun, naik 1 persen dibanding posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp5,23 triliun.
Posisi Keuangan Solid
Posisi ekuitas Rp9,96 triliun mengalami kenaikan 18,4 persen dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp8,41 triliun. Kinerja keuangan perseroan menunjukkan hasil positif, terlihat dari beberapa rasio keuangan penting. Di antaranya quick ratio 105,1 persen, current ratio 276,1 persen, debt to asset ratio 6,9 persen, dan debt to equity ratio 10,6 persen.
“Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan kinerja keuangan solid, ditopang pencapaian kinerja operasional cukup signifikan, konsistensi strategi optimalisasi, dan efisiensi berkelanjutan seluruh lini bisnis. So, perseroan berhasil melampaui target laba yang telah ditetapkan,” tegas Restu Widiyantoro, Direktur Utama Timah.
Secara keseluruhan, harga timah pada kuartal I 2026 menunjukkan penguatan signifikan di tengah volatilitas tinggi. Itu didorong pengetatan pasokan, dan penguatan sentimen spekulasi pasar. Namun demikian, momentum kenaikan mulai menghadapi tekanan seiring peningkatan persediaan global, indikasi pemulihan pasokan, eskalasi risiko geopolitik turut memperbesar ketidakpastian, tekanan terhadap biaya, dan kelancaran rantai pasok.
Ledakan Harga
Harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price London Metal Exchange (LME) kuartal I 2026 sebesar USD48.679,68 per metrik ton. Melonjak 34,7 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya USD31.804,37 per metrik ton. Sisi permintaan, struktur konsumsi timah menunjukkan perbaikan positif. Sekitar 50 persen permintaan ditopang segmen solder terintegrasi dengan industri semikonduktor, dan elektronik.
Prospek segmen ini tetap kuat, didorong tren struktural jangka panjang seperti akselerasi kecerdasan buatan (AI), ekspansi pusat data, pengembangan penyimpanan energi, dan peningkatan investasi pada infrastruktur kelistrikan. Persediaan timah di gudang LME pada akhir Maret 2026 berada di posisi 8.700 ton, naik 60,7 persen dari awal tahun 2026 di posisi 5.415 ton. Berdasar CRU Tin Monitor, pertumbuhan produksi logam timah global kuartal I 2026 sebesar 90.645 ton. Konsumsi logam timah global diperkirakan 89.036 ton.
Related News
Tutup Kuartal I, Penjualan TRIS Naik 13,18 Persen
Makin Bengkak, WIKA Tekor Rp1,13 Triliun Kuartal I 2026
Laba PTMR Melonjak 154 Persen Q1 2026, Saham Jalani Suspensi
Kinerja Moncer, Laba BCIP Melonjak 225 Persen Q1 2026
Drop 109 Persen, EMTK Kuartal I Boncos Rp335,85 Miliar
GGRP Comeback! Cetak Laba Melesat 120 Persen Q1 2026





