EmitenNews.com - Pasar modal tanah air pada awal 2026 penuh kejutan dan mengukir sejarah. Ini terkait dengan catatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), jumlah investor, penawaran perdana saham alias IPO, hingga mundurnya Iman Rachman sebagai Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI).

Mengawali tahun ini, IHSG bergerak penuh semangat. Bahkan, dalam catatan BEI, IHSG telah mencatat dua kali level tertinggi dalam sejarah atau all time high (ATH).

Catatan itu berlangsung pada 14 Januari 2026 dengan level 9.032,58. Kemudian berlanjut pada 19 Januari 2026 ke level 9.133,87.

Namun catatan ATH IHSG tak berlangsung lama. Sejak ATH terakhir, IHSG berangsur turun. Bahkan saat adanya keputusan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), IHSG juga mengukir sejarah dengan amblas dua hari secara beruntun dan dua kali terkena trading halt.

Pertama terjadi pada 28 Januari 2026 dengan level penutupan 8.320,56 atau anjlok 7,35%. Sebelum tutup perdagangan, IHSG bahkan sempat terkena trading halt atas penurunan 8%.

Efek MSCI pun berlanjut pada 29 Januari 2026. Trading halt kembali terjadi saat perdagangan saham baru mencapai pukul 09:26:01 JATS. Setelah itu, saat perdagangan saham kembali dibuka pada 09:56:01 JATS, IHSG lanjut anjlok hingga 10,08% ke level 7.842,03.

Keadaan itu langsung mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama para SRO menggelar konferensi pers. Di sini, Ketua DK OJK Mahendra Siregar bahkan langsung turun gunung dan akan menindaklanjuti proposal penyesuaian data yang telah disampaikan oleh BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), yang saat ini tengah dikaji oleh MSCI.

Mulai dari pemisahan kepmilikaan saham di bawah dan atas 5 persen, penyiapan aturan free float 15 persen, hingga rencana delisting bagi perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan itu.

Undur Diri Iman dari Dirut BEI

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Derivatif Keuangan, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi menegaskan, "Sebelum Mei kita akan konsentrasi yang jangka pendek (emiten dengan free float di bawah 5 persen), terutama yang jangka medium-nya (emiten dengan free float lebih dari 5–14 persen). Itu sebelum Mei,” kata Inarno.

Namun soal ketentuan free float minimum 15 persen, OJK menegaskan bahwa pemenuhannya tidak serta-merta langsung berujung sanksi otomatis, melainkan melalui proses pengawasan dan tahapan yang akan diumumkan lebih lanjut oleh SRO.

Selain itu, BEI juga dikabarkan berencana menemui MSCI pada Senin (2/2). Namun sebelum rencana itu berlangsung, pasar modal tanah air dikejutkan dengan keputusan Direktur Utama BEI Iman Rachman yang menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.

Pernyataan Iman itu hanya berselang sehari sejak menggelar konferensi pers dengan OJK. Dalam pernyataannya, Iman hanya bilang keputusannya itu merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai Dirut BEI.

“Saya berharap ini yang terbaik buat pasar modal. Semoga dengan pengunduran saya ini pasar modal kita jadi lebih baik,” ujar Iman.

Mundurnya Iman dari posisi Dirut Bursa juga merupakan sejarah bagi pasar modal tanah air bahkan secara global. Sejauh ini, belum ada nama Dirut Bursa mana pun yang mundur sebelum berakhirnya masa jabatan.

Namun dalam beberapa pemberitaan, pengunduran diri dirut bursa pernah terjadi pada Tokyo Stock Exchange (TSE). Bedanya, kasus yang terjadi pada 2005 itu melibatkan kesalahan seorang pialang yang menyebabkan kerugian hampir USD333 juta.

IPO Saham