Wall Street Melemah, Pasar Tahan Napas Tunggu CPI AS 3,6 Persen
:
0
Potret Wall Street di Lower Manhattan, Kota New York, Amerika Serikat. Foto: La Hora
EmitenNews.com - Indeks di Wall Street ditutup melemah terbatas pada perdagangan Selasa (13/10). Investor mencerna serangkaian laporan laba dari bank-bank besar AS di tengah penurunan tajam bursa Korea Selatan yang menekan saham-saham produsen memory chip.
Equity Research Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis T. menjelaskan, saham-saham terkait industri memori berada di bawah tekanan akibat kekhawatiran persaingan dari Tiongkok bagi perusahaan kecerdasan buatan (AI) AS.
Harga minyak cenderung stagnan dan pasar obligasi AS menunjukkan kinerja beragam setelah libur Columbus Day.
Dari sisi emiten, JPMorgan Chase melaporkan laba dan pendapatan 3Q26 di bawah ekspektasi, namun menaikkan proyeksi pendapatan bunga bersih untuk 2026. Wells Fargo merilis kinerja 3Q26 yang beragam, sementara Goldman Sachs membukukan pendapatan di atas ekspektasi.
"Laporan awal ini akan menentukan arah earning season yang ekspektasinya tinggi. Menurut FactSet, rata-rata laba emiten S&P 500 diperkirakan tumbuh hampir 30% YoY," kata Alrich.
Untuk komoditas, harga minyak Brent ditutup melemah terbatas di level USD 105/barel dan WTI di USD 95/barel (13/10). Minyak bergerak variatif saat investor menimbang prospek masuknya lebih banyak pasokan energi Rusia ke pasar global, sementara kekhawatiran konflik Saudi-Houthi membatasi penurunan.
U.S. 10-year Bond Yield melemah lebih dari 2 bps ke 5,215% setelah harga energi stabil dan investor menanti rilis inflasi AS. Harga emas spot melemah 0,4% ke USD 4.154/troy oz.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta menilai sikap investor global cenderung prudent terkait rilis inflasi AS September, terutama Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan rilis Rabu (14/10), disusul PPI dan data penjualan ritel.
“Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur persistensi tekanan harga dan kekuatan konsumsi domestik AS, sekaligus memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed,” ujarnya.
Khusus CPI, konsensus ekonom memperkirakan inflasi tahunan meningkat menjadi sekitar 3,6% dari 3,4% pada Agustus, terutama dipicu kenaikan harga energi. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar berpotensi mengantisipasi kebijakan moneter lebih ketat atau higher for longer.
Related News
Minat Tinggi, Pemerintah Serap Rp35 Triliun dari Lelang SUN Selasa
Sideways, IHSG Uji Level 6.000
IHSG Rabu (14/10), Ini Proyeksi dari Analis
IPO 2 Tahun Lagi, CEO Kopi Kenangan Galau Pilih IDX atau SGX
Abadikan 50 Karya Jurnalistik Terbaik, BCA Digital Raih Rekor MURI
IHSG Melemah 0,17 Persen, Sempat Sentuh Level Terendah Intraday 5.828





