EmitenNews.com - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun bertahan pada kisaran 5,11 persen pada Kamis (24/9). Angka tersebut merupakan level tertinggi imbal hasil Treasury AS dalam 19 tahun terakhir atau sejak Juli 2007.

Berdasarkan data Trading Economics, lonjakan yield ini terjadi setelah mengalami kenaikan hingga 16 basis poin pada sesi perdagangan sebelumnya. Penguatan imbal hasil dipicu oleh data ekonomi AS yang kuat serta hasil lelang obligasi lima tahun senilai USD70miliar yang melemah.

Rilis data S&P Global menunjukkan aktivitas sektor swasta AS berkembang dengan laju tercepat dalam lebih dari lima tahun pada September 2026. "Sektor jasa dan manufaktur membaik meskipun menghadapi tekanan inflasi yang lebih kuat," rilis Trading Economics pada Kamis (24/9).

Kondisi ekonomi tersebut diperkuat oleh pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve yang menegaskan kembali dukungan terhadap kenaikan suku bunga acuan. Pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga Fed pada Oktober mencapai 70 persen, melonjak dari posisi 55 persen pada hari sebelumnya.

Di saat bersamaan, ketidakpastian negosiasi diplomatik AS dan Iran membuat harga minyak mentah dunia tetap tinggi. Lonjakan harga energi ini menambah tekanan ekspektasi inflasi global dan mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di Amerika Serikat.

Rekor tertinggi imbal hasil obligasi AS ini membawa dampak langsung bagi pasar keuangan Indonesia. Tingginya imbal hasil aset keuangan AS berpotensi memicu aliran modal keluar (outflow) dari pasar berkembang, yang dapat menahan penguatan nilai tukar Rupiah serta mendorong penyesuaian yield Surat Berharga Negara (SBN) di dalam negeri..(*)