AS-Iran Masih Tarik Ulur Pembicaraan Damai, Rupiah Melemah ke Rp17.156
:
0
Ilustrasi, nilai tukar rupiah ke dolar AS.
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada pembukaan perdagangan Rabu, 22 April 2026. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan dolar AS di tengah dinamika geopolitik global, khususnya terkait perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.156 per USD, melemah 13 poin atau sekitar 0,08 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.143 per USD.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di level Rp17.140 sampai dengan Rp17.180 per USD.
Ibrahim juga menilai, ketidakpastian terkait konflik geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.
"Masa depan konflik dinilai belum jelas, di tengah sinyal yang saling bertentangan mengenai kelanjutan pembicaraan damai antara AS dan Iran," kata Ibrahim, Rabu (22/4/2026).
Di samping itu, lanjut Ibrahim, presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa delegasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance akan melakukan kunjungan ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan pada pekan ini. Namun, di sisi lain, pejabat Iran menyebut peluang negosiasi masih kecil selama AS tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap negaranya.
Meski demikian, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Teheran telah memberi sinyal kepada mediator regional terkait rencana pengiriman delegasi ke Islamabad, yang membuka peluang dialog lanjutan.
Selain isu geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan kebijakan moneter AS. Fokus tertuju pada sidang konfirmasi Warsh yang dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 waktu setempat. Sikap independensinya terhadap tekanan politik, khususnya dari Trump yang mendorong penurunan suku bunga, menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Pencalonan Warsh dinilai cenderung kurang lunak dari ekspektasi pasar. Meski mendukung suku bunga rendah, ia sebelumnya mengkritik kebijakan pembelian aset Federal Reserve dan mendorong pengurangan neraca bank sentral.
Dari dalam negeri, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. Strategi tersebut ditempuh melalui peningkatan investasi dan penyelarasan kebijakan fiskal agar pertumbuhan ekonomi tetap berada pada jalurnya.
Related News
Astra Cari Anak Muda Pembawa Perubahan, Dimulai dari Banyuwangi
Hidupkan Lagi Proyek Kompor Listrik, Bahlil Minta Anggaran Rp815M
Resmi Jepang Patok Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 31 Tahun
Rupiah Pagi ini Masih Melaju di Jalur Hijau
Permintaan Melemah, HPE dan HR Emas Periode II Juni 2026 Ikut Turun
Pasar Amerika dan Eropa Meningkat, Ikan Nila Jadi Andalan Ekspor RI





