Bank Sentral Korea Borong Emas, Kurangi Obligasi Asing
:
0
Bank of Korea (BOK). Foto : Yonhap News.
EmitenNews.com - Bank Sentral Korea (Bank of Korea/BOK) secara resmi mempercepat diversifikasi portofolio aset dengan mengumumkan kebijakan pembelian emas. Langkah ini diambil seiring dengan langkah BOK mengurangi konsentrasi pada sekuritas mata uang asing dan mengalihkan komposisi aset ke instrumen deposito, perjanjian pembelian kembali (repurchase agreement/RP), serta pinjaman demi memperkuat stabilisasi pasar.
Berdasarkan data neraca BOK per 24 Agustus 2026, total aset bank sentral tersebut mencapai 638,5 triliun won. Nilai ini melesat 32,9 persen atau naik 158,2 triliun won jika dibandingkan posisi akhir tahun 2016 yang sebesar 480,3 triliun won.
Melansir Maeil Business Newspaper, BOK juga mengonfirmasi langkah pergeseran investasi dengan memangkas porsi kepemilikan Exchange-Traded Fund (ETF) saham luar negeri di pasar saham Amerika Serikat (AS) serta negara maju, lalu memasukkan ETF emas baru. Menurut laporan 13F yang disampaikan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), BOK tercatat membeli 679.765 saham baru SPDR Gold Trust (GLD) hingga akhir Juni.
"Laba bersih meningkat karena bunga dari pengelolaan aset luar negeri dan keuntungan serta kerugian perdagangan sekuritas mata uang asing meningkat," ujar seorang pejabat dari Bank Sentral Korea merespons lonjakan kinerja keuangan lembaga tersebut. Hingga akhir Juli, laba bersih kumulatif BOK menyentuh 11,79 triliun won, melesat lebih dari dua kali lipat dibanding periode sama tahun lalu sebesar 5,7119 triliun won.
Meski nilai surat berharga naik dari 372,1 triliun won (2016) menjadi 448,4 triliun won per Juli 2026, porsinya terhadap total aset justru menyusut dari 77,5 persen menjadi 70,2 persen. Sebaliknya, porsi instrumen pengendali likuiditas meningkat, seperti deposito sebesar 46 triliun won (7,2 persen), pembelian RP sebesar 41 triliun won (6,4 persen), dan pinjaman wesel sebesar 28,5 triliun won (4,5 persen).
Strategi Bank Sentral Korea dalam memupuk cadangan emas serta memangkas porsi obligasi menjadi sinyal antisipasi gejolak makroekonomi global bagi bank sentral negara berkembang, termasuk Bank Indonesia (BI). Kebijakan memperkuat safe haven dan memperluas alat likuiditas jangka pendek ini mencerminkan tingginya urgensi menjaga ketahanan daya tahan ekonomi dari ketidakpastian pasar keuangan internasional.(*)
Related News
Tak Cuma Listrik, Bahlil Dorong Geothermal Buat Industri
Ancaman Fiskal AS Bawa Emas Dunia dan Antam Kompak Melonjak
Yield Global Tekan Saham Jepang, Investor Pantau Iran
Dolar AS Anjlok ke 98,8, Rupiah Berpeluang Menguat Ikuti Yen dan Euro
Peluang Suku Bunga BOJ Naik Tembus 82 Persen di September
Yield Obligasi AS Tembus Rekor 2 Dekade, Kontrak Saham Anjlok





