Bersiap Gelombang IPO, 11 Saham Bervaluasi Jumbo Ini Antre Mengular!
Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) disertai dinamika penguatan dan pelemahan volatilitas indeks.
EmitenNews.com - Antrean calon emiten di Bursa Efek Indonesia kian menggemuk. Hingga akhir Maret 2026, sebanyak 11 perusahaan beraset besar bersiap melantai di bursa, menandai potensi gelombang IPO dengan valuasi jumbo dalam waktu dekat.
Berlandaskan data yang dijelaskan Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, dikutip Minggu (29/3/2026), hingga 27 Maret 2026 tercatat terdapat 12 perusahaan tengah memproses rangkaian pendaftaran pencatatan saham BEI.
“Sebagai informasi, hingga saat ini, terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” demikian disampaikan dalam paparan tersebut.
Dari sisi klasifikasi aset, mayoritas pipeline didominasi perusahaan beraset besar. Rinciannya, tidak terdapat perusahaan dengan aset skala kecil, hanya 1 perusahaan beraset skala menengah (Rp50 miliar–Rp250 miliar), serta 11 perusahaan masuk kategori aset besar di atas Rp250 miliar.
Secara sektoral, pipeline IPO cukup variatif tersebar, dengan dominasi sektor consumer non-cyclicals. Berikut ialah sebarannya:
3 Perusahaan dari sektor Consumer Non-Cyclicals;
2 Perusahaan dari sektor Healthcare;
2 Perusahaan dari sektor Infrastructures;
2 Perusahaan dari sektor Technology; serta masing-masing
1 Perusahaan dari sektor Energy, Financials, dan Transportation & Logistic
Dari total pipeline tersebut, satu emiten telah mencuat lebih dahulu untuk memulai bookbuilding IPO sahamnya yakni, PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA) yang berasal dari sektor transportasi dan logistik, dengan klasifikasi aset skala menengah.
Related News
BEI Buka Opsi Longgarkan Papan Pemantauan Khusus (FCA) di Kuartal-II
Ketidakpastian Pasar Global, BEI Tahan Kebijakan Short Selling!
Gardeng Bareskrim, OJK Amankan Tersangka Kasus Tindak Pidana Perbankan
Kejar Tenggat MSCI, BEI Kebut Proposal Maret Ini
Sorot Saham FUJI, BEI Cium Aroma Tak Biasa
OJK Buka Suara Soal Rating Bank Himbara Dipangkas Moody's dan Fitch





