EmitenNews.com - PT Bank Permata Tbk. (BNLI) membukukan kinerja positif sepanjang 2025 dengan torehan laba bersih terkumpul Rp3,6 triliun. Pencapaian itu turut ditopang pertumbuhan pendapatan serta lonjakan dana murah (CASA) yang meningkat resilien sepanjang tahun ini.

Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank Rudy Basyir Ahmad dalam Paparan Publik di Jakarta, Kamis (12/3/2026), mengatakan perseroan tetap menjaga disiplin operasional dan prinsip kehati-hatian di tengah dinamika ekonomi global.

“Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan. Dengan fundamental yang resilien, dukungan penuh dari Bangkok Bank, serta kepercayaan seluruh pemangku kepentingan, Permata Bank mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan serta kualitas aset yang tetap terjaga,” ujar Rudy.

Sepanjang 2025, total pendapatan perseroan tumbuh 3,8 persen secara year on year (YoY) menjadi Rp12,6 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang lonjakan pendapatan non bunga yang melonjak 34,1 persen YoY menjadi Rp2,6 triliun.

Posisi neraca BNLI, total aset per 31 Desember 2025 meningkat 3,6 persen YoY menjadi Rp268,3 triliun, sementara simpanan nasabah tumbuh 3,9 persen YoY menjadi Rp192,8 triliun. Peningkatan dana murah menjadi sorotan dengan CASA melonjak 20,1 persen YoY, sehingga rasio CASA naik menjadi 63,9 persen.

Penyaluran kredit juga mencatat pertumbuhan 5,5 persen YoY menjadi Rp163,3 triliun, dengan kontribusi utama berasal dari segmen korporasi yang meningkat 11,2 persen YoY menjadi Rp99,6 triliun.

Lalu, dari sisi kualitas aset, rasio non-performing loan (NPL) gross tercatat 2,1 persen, sementara loan at risk (LAR) membaik menjadi 6,3 persen. Bank juga menjaga tingkat pencadangan yang konservatif dengan NPL coverage 356 persen dan LAR coverage 118 persen.

Permata Bank juga mempertahankan struktur likuiditas yang longgar. Rasio loan-to-deposit (LDR) tercatat 84,5 persen, sedangkan rasio likuiditas Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada pada 296,5 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 126,8 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator.

Melihat sisi permodalan, struktur modal perseroan tetap kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 34,6 persen dan common equity tier-1 (CET-1) sebesar 26,6 persen, menempatkan Permata Bank di antara bank dengan tingkat permodalan terkuat di kelompok bank umum komersial besar di Indonesia.

Sementara itu, Unit Usaha Syariah Permata Bank turut mencatat kinerja positif. Sepanjang 2025 unit tersebut membukukan laba operasional sebelum provisi Rp785,3 miliar, tumbuh 8,1 persen YoY, ditopang pertumbuhan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang meningkat 6,4 persen YoY.

Dalam kesempatan yang sama, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,1–5,2 persen, dengan konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.