EmitenNews.com - PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) memperluas sayap ekspansi di sektor hilirisasi nikel dan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Melalui anak usahanya Daaz Nexus Energy Limited, Perseroan menandatangani framework agreement bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Industri Baterai Indonesia (IBC), HYD Investment Limited—entitas konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd., serta EVE Energy Co. Ltd. untuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi di Indonesia.

Direktur Utama DAAZ, Mahar Atanta Sembiring dikutip Senin (2/2/2026) menyampaikan bahwa kerja sama ini masih berada pada tahap awal dan implementasinya akan bergantung pada pemenuhan ketentuan pendahuluan serta penandatanganan perjanjian lanjutan.

Framework agreement ini bersifat sebagai kerangka awal dan pelaksanaan kerja sama selanjutnya masih bergantung pada pemenuhan ketentuan prasyarat pendahuluan, serta perundingan dan penandatanganan perjanjian-perjanjian definitif,” ujar Mahar.

Kolaborasi tersebut mencakup pembangunan rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir, mulai dari pengelolaan sumber daya nikel, pengolahan dan pemurnian, hingga produksi sel dan sistem baterai. DAAZ terlibat sebagai bagian dari upaya memperkuat integrasi industri nasional dalam program hilirisasi mineral strategis.

Dalam laporan terpisah, Reuters menyebutkan bahwa ANTM, IBC, dan konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt telah menandatangani framework agreement untuk proyek pengembangan ekosistem baterai dengan nilai investasi sekitar USD5–6 miliar, yang berlokasi di Halmahera Timur dan Jawa Barat.

Adapun, hal ini apabila dirupiahkan berdasar kurs mata uang rupiah di Rp16.800/USD menghasilkan estimasi nilai nominal berkisar Rp84,02 triliun hingga Rp100,8 triliun.

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, juga dalam keterangannya sempat mengatakan bahwa kerja sama ini bertujuan mendorong Indonesia menjadi pemain utama dalam industri baterai global.

“IBC dibentuk agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pusat industri baterai terintegrasi yang berdaya saing global dan berkelanjutan,” ujar Aditya.

Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto juga bersenada menilai kolaborasi ini sejalan dengan mandat perseroan dalam memperkuat hilirisasi mineral nasional.

“Melalui sinergi dengan IBC dan mitra global seperti Huayou, ANTAM berkomitmen memastikan sumber daya mineral Indonesia memberikan nilai tambah maksimal di dalam negeri,” kata Untung.

Ekosistem baterai yang direncanakan akan dikaji lebih lanjut melalui studi kelayakan bersama, dengan potensi kapasitas produksi hingga 20 GWh. Proyek ini diproyeksikan menciptakan ribuan lapangan kerja, serta mendukung agenda transisi energi dan hilirisasi industri di Indonesia.