EmitenNews.com - Pemerintah tengah menjajaki opsi penggunaan stok beras Perum Bulog yang tersimpan lama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman (mamin). Langkah ini disiapkan guna mengatasi masalah tingginya harga bahan baku pangan di pasar domestik.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengungkapkan bahwa tingginya harga bahan baku lokal saat ini memengaruhi daya saing industri. Salah satunya pada industri bihun yang mencatatkan harga beras pecah lokal mencapai Rp11.000 per kilogram, sementara harga impor berkisar Rp5.700 hingga Rp6.000 per kilogram.

"Selisih harga ini cukup besar dan tentu memengaruhi daya saing industri. Kalau harga bahan bakunya terlalu tinggi, industri seperti bihun akan sulit bersaing. Karena itu, kita sedang mencari solusi agar bahan baku bisa diperoleh dengan harga yang lebih kompetitif," kata Menperin Sarmuji di Jakarta, Rabu (14/10).

Sarmuji menambahkan bahwa penggunaan stok beras Bulog berpotensi memberikan manfaat ganda bagi industri sekaligus mengoptimalkan nilai ekonomi stok yang berisiko mengalami penurunan kualitas.

"Kita sedang mencari cara agar stok beras Bulog yang sudah lama tersimpan dapat dimanfaatkan industri, tentunya dengan harga yang bisa ditoleransi oleh pelaku usaha. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk membahas persoalan ini," ungkapnya.

Ketua Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengapresiasi ketersediaan pemerintah mencari solusi bahan baku. Ia berharap penetapan neraca komoditas untuk gula, garam, jagung, dan daging dipercepat agar kebutuhan awal 2027 dapat terpenuhi.

Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menyampaikan optimismenya terhadap kinerja sektor ini.

"Kami optimis terhadap kinerja industri makanan dan minuman hingga akhir tahun 2026 ini, dengan menargetkan pertumbuhan sebesar 6-7 persen," kata Putu.(*)