EmitenNews.com - PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) optimistis mampu meraup pendapatan di sepanjang 2022 sekitar USD1,3 miliar sampai USD1,5 miliar, dengan jumlah EBITDA diproyeksikan bisa mencapai kisaran USD320 juta hingga USD380 juta.

 

Proyeksi kinerja keuangan tersebut disampaikan melalui materi Public Expose DOID yang rencananya diselenggarakan di Jakarta, Rabu, 29 Juni 2022. Pada hari yang sama, DOID juga akan menggelar RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa.

 

DOID menyampaikan, untuk sepanjang tahun ini perseroan akan menyiapkan belanja modal (capex) sekitar USD150 juta sampai USD200 juta, guna mendukung kinerja operasional maupun kinerja keuangan di sepanjang tahun.

 

Pada Kuartal I-2022, DOID mencatatkan jumlah pendapatan sebesar USD332 juta atau bertumbuh sebesar 108 persen (year-on-year). Sedangkan EBITDA tercatat senilai USD70 juta, dengan marjin EBITDA sebesar 23,9 persen.

 

DOID meyakini bahwa pada Semester II-2022 akan ada penandatanganan perpanjangan kontrak BUMA Australia dengan BHP Billiton dan Mitsubishi Alliance di Blackwater hingga 2026 sebesar AUD540 juta. Selain itu, pihaknya juga akan menandatangani kontrak baru dengan Bowen Coking Coal senilai AUD320 juta. 

 

Tantangan pada tahun ini menurut keterangan tersebut adalah curah hujan yang lebih tinggi sepanjang bulan-bulan awal tahun 2021 dibandingkan dengan bulan-bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya, dan berlanjut hingga 2022.

 

Curah hujan yang lebih deras ini berlanjut hingga 3Q 2021 yang biasanya merupakan musim paling kering sepanjang tahun. BMKG memperkirakan El Nino netral tetapi berpotensi berubah menjadi La Nina menjelang akhir 2021 hingga Januari 2022.

 

Dengan demikian, terdapat risiko lanjutan untuk peningkatan volume yang lebih lambat untuk sisa tahun ini  Cuaca tahun 2021 merupakan anomali yang terlihat berdampak pada produksi batubara secara keseluruhan di Indonesia, namun Perseroan akan terus mengatasi kerugian produksi dengan mengoptimalkan metrik operasional lainnya.

 

Dari sisi finansial, Perseroan membiayai kembali obligasi dengan menerbitkan obligasi baru senilai USD400 juta dan jatuh tempo di tahun 2026 – dengan biaya yang sama. Hal ini memberikan fleksibilitas untuk mengakomodasi pertumbuhan.