EmitenNews.com - Indeks dolar Amerika Serikat diperdagangkan di kisaran level 101,4 pada Rabu (30/9/2026) dan berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan bulanan sekitar 2 persen. Penguatan mata uang AS ini berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah di pasar valuta asing.

Penguatan dolar AS didorong oleh kekhawatiran atas inflasi yang terus-menerus di sektor energi, ketahanan ekonomi AS, serta sinyal hawkish dari pejabat Federal Reserve yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan. Tekanan inflasi energi bertahan seiring harga minyak yang tetap tinggi akibat kebuntuan negosiasi AS-Iran, meski aliran pasokan dari Timur Tengah mulai membaik.

Gubernur Fed Michael Barr menegaskan kembali pandangannya bahwa kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan akan diperlukan untuk mengekang inflasi. Senada, Presiden Fed New York John Williams menyatakan pada Selasa (29/9/2026) bahwa kenaikan suku bunga lain pada akhir tahun ini mungkin tepat untuk dilakukan.

Trading Economics pada Rabu (30/9/2026) mencatat bahwa pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga Fed hingga hampir satu poin persentase selama 12 bulan ke depan.

Investor global kini menantikan rilis laporan indeks harga PCE pada Rabu (30/9/2026) yang merupakan indikator inflasi acuan The Fed. Selain itu, laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat (2/10/2026) juga ditunggu pasar sebagai panduan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Kenaikan indeks dolar AS hingga 2 persen sepanjang September ini menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan Indonesia. Tren penguatan dolar berisiko memicu pelemahan rupiah serta memicu potensi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar surat berharga maupun saham domestik.(*)