EmitenNews.com - Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat ke kisaran level 101,1 pada awal perdagangan pekan ini. Penguatan tersebut membawa mata uang Paman Sam bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan terakhir akibat lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya permintaan terhadap aset aman (safe-haven).

Lonjakan harga komoditas energi terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak usulan terbaru dari Iran terkait pembukaan kembali akses Selat Hormuz. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi global yang berisiko mendorong Bank Sentral AS (The Fed) menerapkan kebijakan moneter lebih ketat.

Selain eskalasi geopolitik, penguatan greenback terdorong oleh prospek kenaikan suku bunga acuan AS dalam waktu dekat. "Beberapa pejabat Fed pekan lalu menyebutkan pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan pasar tenaga kerja yang kuat sebagai alasan mengapa kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan," bunyi laporan Trading Economics pada Senin (28/9/2026).

Laporan tersebut menambahkan, Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menilai ketahanan ekonomi serta kekhawatiran atas utang pemerintah AS menjadi pemicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Treasury jangka panjang.

Pelaku pasar finansial global saat ini menunggu rilis data indikator inflasi pilihan The Fed serta laporan ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan keluar pekan ini untuk mendapat petunjuk lebih rinci mengenai arah suku bunga.

Keperkasaan indeks dolar AS dan melambungnya harga minyak mentah ini memberikan tekanan langsung terhadap stabilitas nilai tukar rupiah di pasar uang domestik. Selain memicu potensi pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS, lonjakan harga minyak global turut membayangi beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.(*)