Fokus PKPU, Garuda Indonesia (GIAA) Kembali Pertegas Tanpa PHK Massal
:
0
EmitenNews.com - PT Garuda Indonesia (GIAA) mengklaim tidak ada rencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Manajemen Garuda Indonesia juga tidak memiliki agenda pertemuan dengan Kementerian Ketenagakerjaan berkenaan dengan rencana pengurangan jumlah karyawan.
”Hingga detik ini, kami tidak memiliki rencana melakukan PHK karyawan besar-besaran,” kelit Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, akhir pekan lalu.
Garuda Indonesia disebut-sebut menjalankan PHK massal dengan tujuan utama efisiensi biaya operasional perseroan. Maklum, maskapai pelat merah itu, tengah dibelit persoalan tidak ringan. ”Saat ini, sudah cukup banyak mengambil kebijakan soal efisiensi biaya sektor kepegawaian. Seperti program penawaran pensiun dipercepat kepada karyawan,” imbuh Irfan.
Selanjutnya, Garuda Indonesia menjalankan program unpaid leave. Itu dilakukan melalui pengaturan kerja secara bergantian kepada para penerbang dengan mengacu pada jumlah operasi penerbangan. Lalu, pemotongan gaji kepada seluruh pegawai, termasuk komisaris, dan direksi.
Aneka efisiensi itu dilakukan Garuda Indonesia dengan mengedepankan komunikasi konstruktif bersama karyawan. Itu penting untuk memastikan fokus transparansi komitmen tata kelola perusahaan khususnya melalui pengelolaan sumber daya manusia (SDM) berjalan secara optimal.
Saat ini, Garuda Indonesia fokus pada proses restrukturisasi melalui penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Selama proses PKPU berlangsung, Garuda Indonesia memastikan seluruh aspek kegiatan operasional penerbangan tetap berlangsung normal. (*)
Related News
Folago Global Nusantara (IRSX) Berhasil Cetak Laba Bersih di 1Q 2026
Pasok Modal Kerja Arutmin, BUMI Terbitkan Obligasi Rp1,8 Triliun
Pendapatan BUMI Tembus USD417 Juta Q1-2026, Laba Lompat 35,16 Persen!
Penjualan Lesu, Laba Emiten Low Tuck Kwong (BYAN) Drop Dobel Digit
Rampungkan Proyek Jumbo, Emiten Semen BUMN Ini Siap Serbu Pasar Ekspor
Penjualan Terkoreksi, Laba GJTL Tetap Tumbuh 7,77 Persen di Q1-2026





