EmitenNews.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti besaran free float tidak otomatis menjamin likuiditas saham di pasar. 

Kerap kali ditemui saham-saham dengan fraksi harga tinggi di atas Rp1.000 atau yang marak ditemui di atas Rp10.000 per lembar saham justru transaksinya sepi dikarenakan floating share sudah banyak terbeli dan tidak tersedianya lot jual yang tersebar di pasar.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi saat diwawancarai pada Selasa (3/3/2026) menyebut faktor konsentrasi kepemilikan menjadi variabel penting yang turut menentukan ketersediaan saham di pasar.

“Sebetulnya di luar (konteks free float), karena, kan, yang MSCI awalnya kita proposal itu tiga bagian besar, tapi kita lihat ini juga jadi praktik yang baik yang bisa kita adopsi. Ada beberapa bursa lain yang sudah menerapkan dan terbukti lebih menghadirkan transparansi dan kredibilitas. Jadi ini keputusan kita secara mandiri bahwa kita ingin menghadirkan itu,” ujar Hasan dalam wawancara di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (3/3/2026).

Menurut dia, inisiatif penambahan high concentration shareholder list (Daftar Konsentrasi Pemegang Saham) bukan semata respons atas permintaan indeks global seperti MSCI. 

OJK dan BEI menilai kebijakan tersebut sebagai praktik tata kelola yang baik untuk memperkuat transparansi struktur kepemilikan saham di pasar domestik.

“Dan ternyata diterima baik juga oleh MSCI. Artinya tambahan bonusnya, tambahan kehadiran high concentration shareholder list ini diapresiasi karena lebih memberikan transparansi dan kredibilitas dari peta porsi kepemilikan dan konsentrasi kepemilikan di saham-saham tersebut,” kata Hasan.

Daftar konsentrasi pemegang saham tersebut akan diumumkan secara bertahap kepada publik. 

Hasan menyebut, pengumuman dimulai dalam waktu dekat, sementara untuk daftar high shareholder concentration akan menyusul setelah finalisasi data.

Isu likuiditas sendiri sempat mengemuka seiring adanya saham dengan free float relatif besar namun dinilai sulit diperoleh di pasar. Hasan meminta publik menunggu rilis resmi sebelum menarik kesimpulan. 

“Nanti begitu nyangkut atau ketemu angka konsentrasinya langsung diumumkan,” ujar Hasan.